Sejarah Wali Songo dan Perannya dalam Penyebaran Islam di Jawa

Berita Islam – Wali Songo adalah sebutan bagi sembilan orang wali yang berperan menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Setiap wali memiliki sebutan yang disesuaikan dengan tempat tinggal dan wilayah penyebarannya. Meski namanya sangat terkenal, tetapi belum banyak yang tahu sejarah Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam. 

Masyarakat Jawa kerap menyebut Wali Songo sebagai Sunan yang berarti orang yang terhormat. Misalnya Sunan Ampel, Sunan Bonang, hingga Sunan Kalijaga. Untuk lebih memahaminya simak sejarah Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa. Berikut ini yang dihimpun dari berbagai sumber.

Sejarah Wali Songo

Wali artinya adalah wakil, sedangkan songo berarti sembilan dalam bahasa Jawa. Wali Songo dapat diartikan sebagai sembilan wakil atau wali Allah Swt. Maka, Wali Songo memiliki arti sembilan orang yang telah mencapai tingkat wali, seperti dikutip dari buku Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah Kelas XII (2016).

Kesembilan orang tersebut memiliki derajat tingkat tinggi yang mampu mengawal babahan hawa sanga atau mengawal sembilan lubang dalam diri manusia sehingga memiliki peringkat wali. Dikutip dari buku Sejarah Wali Songo oleh Zulham Farobi (2019), penyebaran Islam di Jawa berjalan dengan damai.

Para Wali Songo menyebarkan agama Islam dengan pendekatan budaya, yaitu dengan memadukan seni budaya lokal dengan ajaran Islam. Contohnya adalah wayang, tembang Jawa, gamelan, serta upacara adat yang digabungkan dengan ajaran dan makna Islam.

Metode dakwah yang lembut, damai, dan tanpa unsur paksaan tersebut membuat masyarakat Jawa bisa menerima kehadiran Wali Songo dan ajaran Islam secara sukarela.

Pembangunan langgar atau masjid oleh para Wali Songo, selain sebagai tempat ibadah juga sebagai tempat untuk mengajarkan ajaran-ajaran dalam Islam. Tempat-tempat inilah yang menjadi pusat penyebaran agama Islam.

Peran Wali Songo yang cukup dominan adalah dakwah, baik dakwah lisan atau tulisan. Para Wali Songo berkeliling dari satu daerah ke daerah lain untuk menyebarkan ajaran Islam.

Sejarah Wali Songo dalam Menyebarkan Islam

1. Sunan Maulana Malik Ibrahim

Syekh Maulana Malik Ibrahim memiliki nama lengkap Maulana Makdum Ibrahim as-Samarkandi, diperkirakan lahir di Samarkand, Asia Tengah. Versi lainnya Sunan Maulana Malik Ibrahim juga dikenal sebagai Syekh Maghribi atau Sunan Gresik ini berasal dari daerah Maghreb (Afrika Utara).

Ada juga berpendapat dari Gujarat, dari Campa, bahkan berdasarkan baris kelima prasasti di makam Beliau, mengatakan Sunan Maulanan Malik Ibrahin dari Kashan, Iran. Sunan Maulanan Malik Ibrahin berdakwah dengan cara budi bahasa yang santun dan akhlak mulia, tidak menentang agama dan percayaan penduduk asli, karena cara-cara baik inilah banyak masyarakat yang tertarik dan masuk islam.

2. Sunan Ampel

Sunan Ampel anak tertua Sunan Maulana Malik Ibrahim, menurut babad tanah Jawa, nama aslinya adalah Sayyid Ali Ramatullah, dengan nama semasa kecilnya Raden Rahmat.

Dia diperkirakan lahir pada tahun 1401 M, di Campa kerajaan Islam kuno di daerah Vietnam Selatan, versi lainnya di Kamboja, dan ada juga berpendapat Campa terletak di Aceh, sekarang bernama Jeumpa.

Dilansir oleh Masykur Arif dalam buku berjudul Wali Sanga: Menguak Tabir Kisah Hingga Fakta Sejarah, jelaskan metode dakwah pertama Sunan Ampel unik dengan membuat kerajinan berbentuk kipas yang terbuat dari akar tumbuhan dianyam bersama rotan.

Kemudian kipas tersebut diberikan kepada para penduduk secara gratis, dengan syarat harus mengucapkan dua kalimat syahadat. Para warga tampak senang menerima kipas itu, sebab akar yang dianyam bersama rotan bisa menyembuhkan mereka yang terkena penyakit batuk dan demam. Metode ini terus dilakukan Sunan Ampel, hingga dia berada di Desa Kembangkuning, lalu membuka hutan dan mendirikan masjid disana.

3. Sunan Bonang

Nama asli Sunan Bonang adalah Raden Makdum Ibrahim. Ia adalah anak dari Sunan Ampel dan cucu dari Maulana Malik Ibrahim. Mulanya, ia berdakwah di Kediri yang kala itu penduduknya banyak beragama Hindu. Kemudian ia menetap di Desa Bonang, Lasem, Jawa Tengah.

Sunan Bonang kemudian mendirikan pesantren yang dikenal sebagai Watu Layar. Ia wafat pada 1525 dan dimakamkan di Tuban, sebelah barat Masjid Agung.

4. Sunan Drajat

Raden Qasim merupakan nama asli dari Sunan Drajat yang kemudian mendapat gelar menjadi Raden Syarifuddin. Dia adalah putra dari Sunan Ampel dan juga saudara dari Sunan Bonang. Sunan Drajat berdakwah di sebuah desa bernama Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan, Jawa Timur.

Nama desa ini kemudian dijadikan sebagai sebutan Sunan Drajat. Semasa menyebarkan agama Islam, ia mendirikan musala atau surau yang dimanfaatkan sebagai tempat berdakwah.

5. Sunan Giri

Sunan Giri adalah pendiri Kerajaan Giri Kedaton. Ia memiliki nama asli Maulana ‘Ainul Yaqin. Sunan Giri membangun Giri Kedaton sebagai pusat penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Meskipun berada di Gresik, tetapi pengaruh ajaran Islam dari Sunan Giri bisa sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi bahkan Maluku.

Sunan Giri juga memiliki beberapa nama panggilan selain Raden ‘Ainul Yaqin, di antaranya Raden Paku, Prabu Satmata, Sultan Abdul Faqih, dan Joko Samudro.

6. Sunan Kudus

Sunan Kudus putra dari Raden Ustman Haji dengan Syarifah. Nama asli Sunan Kudus adalah Ja’far Shodiq. Sunan Kudus memiliki gelar Waliyyul Ilmi karena memahami berbagai ilmu agama, seperti ilmu tauhid, hadis, ilmu fiqih, sastra mantiq, usul.

Metode dakwah Sunan Kudus melalui kesenian, yaitu Gending Maskumambang dan, Mijil. Cara dakwah lainnya menggunakan simbol budha dalam arsitektur bangunan Masjid Menara Kudus, serta memanfaatkan seekor sapi yang diberi nama Kebo Gumarang.

7. Sunan Kalijaga

Nama asli Sunan Kalijaga adalah Raden Mas Said, beliau lahir tahun 1450 M merupakan putra dari Ki Tumenggung Wilatikta, dan ibunya Raden Mas Jumanten Retna Dumilah Nawangrum.

Metode dakwah Sunan Kalijaga menjadi dalang dan menciptakan beberapa lakon pewayangan, berjudul Dewi Ruci, Jimat Kalimasada, Petruk Dadi Ratu. Serta membuat alat pacul sebagai pengolah tanah, ani-ani alat pemotong padi, dalam dunia seni Sunan Kalijaga membuat lagu berjudul Kidung Tengah Wengi, Lir-ilir, Sluku-Sluku Batok, dan Turi-Turi Putih.

8. Sunan Muria

Profil Sunan Muria yang ditulis oleh Yandi Irshad Badruzzaman dalam buku berjudul Tasawuf Dalam Dimensi Zaman : Definis, Doktrin, Sejarah,dan Dinamika keutamaan, dijelaskan bahwa nama asli Sunan Muria adalah Raden Umar Sa’id.

Metode dakwah Sunan Muria sama seperti Sunan Kalijaga menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya, seperti Sunan Muria suka menggelar lakon Carangan Dewa Ruci, Dewa Srani, Jamus Kalimasada, Begawan Ciptaning,Semar Ambrangan Jatur.

9. Sunan Gunung Jati

Sunan Gunung Jati mempunyai nama asli Syarif Hidayatullah atau Syarif Al-Kamil, lahir tahun 1448 M, oleh dari pasangan Syarif Abdullah Umdatudin bin Ali Nurul Alam dan Nyai Rara Santang atau Syarifah Mudaim.

Metode dakwah Sunan Gunung Jati diantaranya Gamelan Sekaten atau Gamelan Syahadatan, masyarakat bila ingin menonton ini cukup bayar dengan dua kalimat syahadat “Ayshadu An-la ilaha illallah, Wa Ayshadu Anna Muhammadar Rasulullah”.

Author: pangeranbertopeng