Berita Islam – Dalam tradisi masyarakat jawa dikenal memiliki banyak tradisi yang masih tetap dilestarikan dan dilakukan hingga saat ini walaupun zaman sudah semakin modern. Masyarakat jawa khususnya jawa tengah mengenal sebuah tradisi tahunan yang biasanya mereka rayakan dengan melakukan arak-arakan di pusat kota yang biasa disebut dengan tradisi malam satu suro.
Ada banyak kepercayaan yang bersifat mistis dan menakjubkan, seperti ritual mengunjungi tempat-tempat suci dan keramat, misalnya pergi ke kuburan untuk mendapatkan kekayaan, makanan, warisan, dan bahkan pendamping.
Pada tahun 2026, Malam 1 Suro kembali bertepatan dengan momen Tahun Baru Islam. Meski sering dikaitkan satu sama lain, 1 Suro dan 1 Muharam sebenarnya tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama. Lalu, apa itu Malam 1 Suro dan kapan peringatannya pada 2026? Simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Malam Satu Suro?
Tahun Baru Jawa (bahasa Jawa:ꦱꦶꦗꦶꦱꦤꦫꦫ, terjemahkan. Siji Tentu saja, har. “Satu Suro”) adalah festival terpenting orang Jawa. Peringatan Tahun Baru Jawa dimulai pada hari pertama bulan Sura (ಱददद; Sura) kalender Jawa, bertepatan dengan bulan pertama Hijriah, Muharram. Dirayakan terutama di pulau Jawa dan daerah atau negara lain dengan populasi etnis Jawa yang besar, Tahun Baru Jawa atau Siji-Sura (sura) diperingati setiap tahun dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional setiap orang terutama di salah satu daerah di pulau jawa.
Orang Jawa menganggap bulan Sura suci. Ada beberapa alasan untuk asumsi ini. Selain fakta bahwa Surah atau Muharram adalah bulan yang dimuliakan Allah, banyak peristiwa penting terjadi di bulan ini.
Tahun Baru Jawa biasanya dirayakan pada malam hari setelah matahari terbenam. Di Jawa, hari itu dianggap keramat, apalagi jatuh pada jumat legi (Hari Jumat). Bagi sebagian orang dilarang pergi ke mana pun pada malam Siji Sura kecuali untuk sembahyang atau melakukan ibadah lainnya.
Sejarah Malam Satu Suro
Dilatar belakangi bahwa tanggal 1 Muharram pertama kali ditetapkan dalam penanggalan Islam oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Islam pada zaman setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Awal aksesi ini menjadi cikal bakal pengenalan penanggalan Islam di kalangan masyarakat Jawa.
Maka pada tahun 931 H atau 1443 tahun baru Jawa yaitu pada masa kerajaan Demak, Sunan Giri II melakukan perubahan antara sistem penanggalan Hijriyah dengan sistem penanggalan Jawa pada masa itu. Saat itu, Sultan Agung menginginkan persatuan rakyatnya untuk menyerang Belanda di Batavia, termasuk keinginan untuk mempersatukan Jawa. Itu sebabnya dia ingin umatnya tidak terpecah belah, terutama karena keyakinan agama.
Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin mempersatukan golongan Santri dan Abangan. Laporan pemerintah daerah disiapkan selama hari Jumat, sementara bupati membuat pernyataan, serta pemakaman dan transportasi ziarah ke makam Ampel dan Giri. Oleh karena itu, tanggal 1 Muharram (1 Suro Jawa) yang dimulai pada hari Jumat Agung juga sakral, bahkan dianggap sial jika menggunakan hari ini untuk hal lain selain mengaji, haji, dan transportasi.
Tradisi Khas Malam Satu Suro

1. Bubur Asura
Tradisi Bubur Asura dikenal di sejumlah daerah, seperti Kalimantan, Garut, Tasikmalaya, dan Limbangan di Jawa Barat. Masyarakat memasak bubur merah dan bubur putih secara gotong royong untuk kemudian dibagikan atau disantap bersama. Acara ini biasanya disertai pembacaan shalawat, doa, dan dzikir sebagai ungkapan syukur sekaligus harapan akan keberkahan di tahun yang baru.
Meski memiliki bentuk yang berbeda-beda, berbagai ritual malam 1 Suro tersebut pada dasarnya mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, serta semangat menyambut tahun baru dengan doa dan harapan yang lebih baik.
2. Kirab Muharram
Kirab Muharram merupakan tradisi yang identik dengan perayaan malam 1 Suro di lingkungan Keraton Surakarta. Dalam prosesi ini, kerbau putih atau bule milik keturunan Kiai Slamet diarak mengelilingi kawasan keraton bersama para abdi dalem.
Hewan tersebut dianggap hewan kesayangan Susuhunan dan dianggap keramat dan menjadi bagian dari tradisi yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
3. Ngadulang
Ngadulang adalah tradisi suroan (1 Suro) yang dilakukan masyarakat di Sukabumi, Jawa Barat. Kegiatan ini biasanya melibatkan berbagai acara budaya dan perlombaan yang diikuti masyarakat setempat. Salah satu yang paling khas adalah lomba menabuh bedug.
4. Nganggung
Nganggung merupakan tradisi makan bersama yang berkembang di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung. Dalam tradisi ini, warga membawa dulang atau nampan berisi nasi, lauk-pauk, dan berbagai hidangan lainnya ke masjid atau tempat berkumpul. Setelah doa bersama, makanan tersebut disantap secara bersama-sama sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur.