Berita Islam – Ketika bulan Ramadan, umat Islam di berbagai dunia melaksanakan ibadah puasa. Akan tetapi karena perbedaan letak geografis setiap wilayah mempunyai durasi waktu puasa yang berbeda-beda. Walaupun menjalani ibadah yang sama, setiap negara mempunyai durasi puasa yang berbeda-beda. Untuk di Indonesia, waktu berpuasa berkisar antara 13 hingga 14 jam dari mulai azan subuh hingga azan Magrib untuk berbuka puasa.
Perbedaan ini bukan disebabkan faktor budaya atau kebiasaan lokal, melainkan berkaitan langsung dengan pergerakan Bumi dan posisi Matahari. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Ramadan tidak hanya berkaitan dengan kalender Hijriah, tetapi juga terhubung dengan sistem kosmik yang bekerja secara presisi. Berikut penjelasan kenapa durasi puasa Ramadan bisa berbeda di berbagai belahan dunia.
Alasan Durasi Waktu Puasa Berbeda-beda
Dikutip jurnal Fenomena Perbedaan Durasi Waktu Berpuasa dan Implikasi Hukumnya Terhadap Kewajiban Berpuasa oleh Maria Ulfa Sutriani, terjadinya perbedaan durasi waktu berpuasa karena dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Faktor yang mempengaruhi tersebut seperti adanya revolusi dan rotasi bumi yang bisa mempengaruhi pergeseran dan pergantian musim terutama untuk wilayah sub tropis sehingga ada waktunya Ramadan jatuh pada hari-hari di mana siang lebih panjang dari pada malam atau pun sebaliknya, atau di lain waktu antara siang dan malamnya seimbang.
Rotasi Bumi menentukan waktu terbit dan terbenam Matahari
Bumi berputar pada porosnya setiap sekitar 24 jam, dan rotasi ini menjadi penyebab utama pergantian siang dan malam. Saat suatu wilayah menghadap Matahari, terjadilah siang hari, sedangkan ketika berbalik arah, wilayah tersebut memasuki malam. Waktu terbit dan terbenam Matahari yang berbeda di tiap lokasi muncul karena posisi Bumi yang terus bergerak.
Rotasi ini menentukan momen fajar dan magrib yang menjadi patokan awal serta akhir puasa. Meski semua wilayah mengalami rotasi yang sama, posisi geografis membuat waktu matahari terbit tidak seragam. Karena itu, dua kota dalam satu negara pun bisa memiliki durasi puasa berbeda beberapa menit. Mekanisme rotasi menjadi dasar harian yang mengatur panjang waktu puasa di seluruh dunia.
Garis lintang menentukan panjang siang di tiap wilayah
Letak suatu negara terhadap garis khatulistiwa memengaruhi lama penyinaran Matahari yang diterima setiap hari. Wilayah yang berada dekat khatulistiwa cenderung memperoleh durasi siang hampir sama sepanjang tahun karena sudut datang cahaya Matahari relatif konsisten. Sebaliknya, daerah yang semakin mendekati kutub mengalami variasi siang yang ekstrem, bahkan bisa mencapai belasan hingga puluhan jam.
Perbedaan ini terjadi karena bentuk Bumi yang bulat membuat sudut penyinaran Matahari tidak merata pada setiap garis lintang. Ketika Ramadan jatuh pada periode tertentu, negara di lintang tinggi bisa mengalami siang sangat panjang sehingga waktu puasa ikut memanjang. Kondisi ini juga menjelaskan mengapa beberapa kota di Eropa Utara dapat memiliki waktu puasa jauh lebih lama dibanding wilayah tropis. Dampak garis lintang terhadap durasi siang menjadi faktor paling langsung yang menentukan lama puasa.
Posisi khatulistiwa menjaga durasi siang tetap seimbang
Wilayah yang terletak tepat di sekitar garis khatulistiwa memiliki karakter unik karena menerima distribusi cahaya Matahari yang hampir stabil sepanjang tahun. Sudut penyinaran di daerah ini tidak banyak berubah, sehingga perbedaan panjang siang dan malam relatif kecil. Akibatnya, durasi puasa di negara tropis cenderung konsisten dari tahun ke tahun.
Kondisi ini menjelaskan mengapa negara seperti Indonesia, Brasil, atau Kenya memiliki rentang waktu puasa yang hampir sama setiap Ramadan. Variasi waktu hanya dipengaruhi perubahan kecil posisi Matahari, bukan pergeseran musim ekstrem. Stabilitas tersebut membuat durasi puasa di wilayah khatulistiwa jarang mengalami lonjakan drastis. Fenomena ini menjadi contoh bagaimana posisi geografis dapat memengaruhi pengalaman Ramadan secara langsung.