Berita Islam – Dalam beramal shaleh, umat muslim diajarkan mengenai keiklasan dan juga mengenai bahaya syirik dan riya. Allah SWT sendiri dalam surat Az Zumar ayat 2-3 berfirman :
اِنَّآ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَۗ
اَلَا لِلّٰهِ الدِّيْنُ الْخَالِصُ ۗوَالَّذِيْنَ اتَّخَذُوْا مِنْ دُوْنِهٖٓ اَوْلِيَاۤءَۘ مَا نَعْبُدُهُمْ اِلَّا لِيُقَرِّبُوْنَآ اِلَى اللّٰهِ زُلْفٰىۗ اِنَّ اللّٰهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِيْ مَا هُمْ فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ ەۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ كٰذِبٌ كَفَّارٌ
Innā anzalnā ilaikal-kitāba bil-ḥaqqi fa‘budillāha mukhliṣal lahud-dīn(a). Alā lillāhid-dīnul-khāliṣ(u), wal-lażīnattakhażū min dūnihī auliyā'(a), mā na‘buduhum illā liyuqarribūnā ilallāhi zulfā, innallāha yaḥkumu bainahum fī mā hum fīhi yakhtalifūn(a), innallāha lā yahdī man huwa kāżibun kaffār(un).
artinya :
Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad) dengan hak. Maka, sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Ketahuilah, hanya untuk Allah agama yang bersih (dari syirik). Orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata,) “Kami tidak menyembah mereka, kecuali (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memberi putusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada pendusta lagi sangat ingkar.
Perbuatan yang bersifat riya adalah ketika kita menjalankan suatu amal ibadah namun bukan dengan tujuan menyembah Allah SWT melainkan untuk mendapatkan perhatian dan pujian dari orang sekitar. Oleh sebab itu, sebagai umat muslim yang taat dalam menjalankan ibadah kita diharuskan menghindari sifat-sifat syirik dan riya. Lalu, bagaimanakah caranya agar bisa terhindar dari sifat riya?
Dikutip dari Republika.co.id, ada lima cara yang bisa dilakukan oleh seorang umat muslim dalam menghindari sifat riya. Hal pertama yang bisa dilakukan adalah merenungi ayat-ayat Al-Quran dan juga hadits-hadits dari Rasulullah SAW. Ayat-ayat dan juga hadits dari Rasulullah sendiri mengajarkan umat muslim untuk tetap iklas dalam menjalankan ibadah. Jika seorang umat muslim memahami bahaya riya, maka umat tersebut nantinya akan lebih kuat dalam menghindari dosa tersebut. Bagi kamu yang sedang belajar menghindari sifat riya, kamu bisa membaca kitab Riyadusshalihin bab keikhlasan.

Cara kedua yang bisa dilakukan untuk menghindari sifat riya adalah mengingatkan dan menegur dengan lembut orang-orang yang memberikan pujian. Alangkah baiknya, pujian tersebut diganti dengan doa-doa yang baik sehingga kita sebagai umat muslim bisa terhidar dari tinggi hati.
Dalam menghadapi pujian, kita juga harus tetap waspada dan paham tentang bahaya dari pujian, karena kita bisa terjebak dalam sifat riya. Oleh sebab itu, kita perlu paham mengenai apa yang kita capai sekarang bukanlah keberhasilan diri anda, melainkan karunia dari Allah SWT. Hal itu sendiri sejalan dengan firman Allah SWT dalam Ad Duha ayat 6-8 yang berisi :
اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ
وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ
وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ
Alam yajidka yatīman fa āwā. Wa wajadaka ḍāllan fa hadā. Wa wajadaka ‘ā’ilan fa agnā.
artinya :
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu); mendapatimu sebagai seorang yang tidak tahu (tentang syariat), lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?
Sebagai seorang umat muslim, kita juga perlu meluruskan niat dan iman kita sebelum berbuat amalan baik. Apakah hal tersebut dilakukan secara iklas untuk memuliakan Allah SWT, atau hanya untuk memuliakan namamu sendiri? Jika dengan sadar bukan niat untuk menyembah Allah SWT, maka kita perlu meluruskan kembali niat kita dalam berbuat baik agar tidak terbiasa dengan sifat riya.
Sumber : https://www.republika.co.id/berita/ri8zce430/lima-cara-seorang-muslim-terhindar-dari-riya