Fakta Sejarah Perpustakaan Islam Terbesar di Dunia, Bayt Al-Hikmah

Berita Islam – Dalam sejarah, peradaban Islam tercatat pernah mengalami puncak kejayaan dari tahun 750 hingga 1258 Masehi. Salah satu bukti sejarah bahwa Islam pernah menjadi pusat pendidikan atau pemimpin dalam bidang ilmu pengetahuan, adalah didirikannya perpustakaan terbesar bernama Bayt Al Ḥikmah.

Saat itu, aktivitas pengkajian, penelitian, penerbitan, penerjemahan, dan pengembangan ilmu pengetahuan aktif dilakukan di pusat-pusat peradaban Islam seperti Baghdad, Damaskus, Kairo, hingga Kordoba.

Fakta sejarah tentang Bayt Al-Hikmah yang terletak di Baghdad, Irak, dan merupakan perpustakaan Islam terbesar di dunia, memang menarik untuk disimak.

1. Bayt Al Hikmah Berdiri Pada Masa Khalifah Al-Ma’mun

Dinasti Abbasiyah pernah mengalami puncak kejayaannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan sains. Yakni pada masa khalifah ketujuh, Khalifa Al-Ma’mun yang berkuasa pada tahun 813-833 M.

Hal ini sebagaimana dinukil dari buku Filsafat Sains: Menurut Ibn Al-Haytham karya Usep Mohamad Ishaq.

Kejayaan ini ditandai dengan didirikannya perpustakaan bernama Bayt Al Ḥikmah atau sering disebut juga sebagai “House of Wisdom.” Kemudian, ini adalah perpustakaan terbesar yang dimiliki dunia Islam saat itu.

2. Menjadi persimpangan berbagai bahasa dan kebudayaan

Pada masa itu, Bayt Al Hikmah menjadi salah satu tempat paling aktif melakukan kegiatan penerjemahan untuk manuskrip dari bahasa Yunani, Hindi (India), Aram (Semitik), Suryani (Suriah), China, Ibrani, Latin, dan Persia. Gerakan penerjemahan yang dilakukan di Bayt Al Hikmah ikut memicu percampuran budaya dari berbagai tempat di dunia.

Dilansir Muslim Heritage, para penerjemah banyak didatangkan dari kalangan sarjana Kristen Suriah, Kristen Nestorian, Yahudi, Persia, dan India. Beberapa nama yang terkenal adalah Yahya ibn Al-Batriq, Tsabit ibn Qurra, Qusta ibn Luqa, Sind ibn Ali, dan Hunayn ibn Ishaq. Karya-karya yang diterjemahkan umumnya ditulis cendekia Yunani seperti Pythagoras, Plato, Aristoteles, Hippocrates, Dioscorides, Euclid, Plotinus, dan Galen. Ada juga karya-karya penulis India seperti Aryabhata, Brahmagupta, Charaka, dan Sushruta.

3. Menelurkan karya-karya monumental dari berbagai bidang

Berkat atmosfer intelektual dan budaya ilmiah yang kental, para ilmuwan Bayt Al-Hikmah pun banyak menelurkan karya-karya monumental. Dilansir 1001 Inventions, khalifah Al-Ma’mun membayar para penulis dan cendekiawan dengan emas seberat buku yang telah mereka selesaikan untuk mendukung penulisan dan penerjemahan.

Hebat, bukan? Beberapa karya terkenal yang lahir di Bayt Al-Hikmah adalah kitab Al-Jabr wal Al-Muqabala karya Al-Khawarizmi yang berisi tentang aljabar, persamaan kuadrat, dan geometri. Selain itu, ada kitab Al-Hiyal karya Banu Musa bersaudara yang membahas mengenai ilmu mekanik. Lalu Al-Hayawan karya Al-Jahiz yang membahas tentang zoologi, serta Al-Zij Al-Mumtahan karya Yahya ibn Mansur.

4. Perpustakaan Bayt Al Hikmah Berisi Lebih dari 601.000 Buku

Sebagai perpustakaan terbesar kala itu, tentu saja Bayt Al Ḥikmah menyimpan banyak sekali buku-buku dan kitab berbagai ilmu. Lalu, apa saja isinya?

Bayt Al Ḥikmah mengoleksi setidaknya 200.000 volume buku di dalamnya. Bahkan, sumber-sumber yang lain menyebutkan, Bayt Al Ḥikmah memiliki buku dengan 601.000 volume. Kemudian ditambah dengan mushaf Al-Qur’an sebanyak 2.400 buku.

Selain menyediakan buku yang lebih beragam daripada perpustakaan-perpustakaan di Basrah, Bayt Al Ḥikmah juga memiliki balai pengamatan. Yang digunakan untuk pencerapan astronomi, biro penerjemahan, penyalinan manuskrip, dan lembaga penelitian ilmuah.

Ada banyak sekali koleksi terjemahan karya sarjana Yunani di Bayt Al Ḥikmah, termasuk di bidang filsafat, geometri, mekanika, musik, aritmatika, dan pengobatan.

Bahkan, dalam buku Sejarah Peradaban Islam karya Akhmad Saufi dan Hasmi Fadillah menyebutkan, di dalam Bayt Al Ḥikmah yang besar ini juga disediakan tempat ruangan untuk belajar.

5. Luluh lantak akibat serangan pasukan Mongol

Berdiri di masa khalifah Harun Al-Rashid, berjaya pada masa Al-Ma’mun, dan mulai mengalami kemunduran pada masa Al-Mutawakkil. Kkehancuran Bayt Al-Hikmah terjadi pada masa kepemimpinan khalifah Al-Musta’sim.

Saat itu, pasukan Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan menyerang Daulah Abbasiyah dan mengepung Baghdad dengan 150.000 pasukan gabungan Mongol dan kerajaan sekutunya. Pengepungan berlangsung selama 13 hari, dari 29 Januari hingga 10 Februari 1258.

Setelah berhasil meruntuhkan Baghdad, pasukan Mongol mulai melakukan pembantaian, penjarahan, dan penghancuran brutal selama seminggu. Bayt Al Hikmah pun ikut jadi sasaran.

Author: pangeranbertopeng