Berita Islam – Syiah merupakan salah satu aliran kelompok Islam pengikut Ali bin Abi Thalib. Aliran ini mendapat banyak penolakan di dunia, termasuk Indonesia karena bertentangan dengan ajaran Islam Sunni.
Peneliti Balai Litbang Agama Semarang Kemenag, Moh Hasim dalam artikenlnya berjudul Syiah: Sejarah Timbul dan Perkembangannya di Indonesia. Hal itu dikutip dari jurnalgarmoni.kemenag.go.id menjelaskan, Syiah dari segi bahasa (etimologi) berarti pengikut, pecinta, pembela, yang ditujukan kepada ide, individu atau kelompok tertentu (Shihab, 2007).
Untuk mengetahui apa itu Syiah, simak penjelasan berikut ini. Mulai dari pengertian dan sejarah perkembangan di dunia dan Indonesia.
Apa Itu Syiah?
Dikutip dari artikel Studi Syiah: dalam Tinjauan Historis, Teologis, Hingga Analisis Materi Kesyiahan di Perguruan Tinggi Islam karya Thoriq Aziz Jayana yang diterbitkan dalam Jurnal Akademika Vol 16 No 1 tahun 2022, kata Syiah secara etimologi berasal dari kata syi’i yang berarti pengikut, pecinta, pembela kelompok tertentu. Kata Syiah juga bisa berakar dari kata tasyaiyu’ yang bermakna mematuhi dengan penuh keikhlasan tanpa keraguan sedikitpun.
Sedangkan secara terminologi, Husain Thabathaba’i yang merupakan ulama tafsir beraliran Syiah, mengartikan Syiah sebagai salah satu aliran dalam Islam. Yang berkeyakinan bahwa orang yang paling berhak menjadi imam umat Islam setelah Nabi Muhammad wafat adalah ahlul bait Nabi Muhammad sendiri, yaitu Ali bin Abi Thalib.
M Quraish Shihab yang mengutip pendapat Jawad Maghniyah dan al-Jurjani, mengatakan Syiah adalah pengikut Imam Ali bin Abi Thalib dan mempercayai bahwa Ali adalah imam sesudah Rasulullah yang ditetapkan secara nash atau pasti.
Kelompok ini juga percaya imamah juga berasal dari keturunan Ali. Definisi ini, menurut Shihab, hanya mencerminkan sebagian dari golongan Syiah, bukan keseluruhan.
Sejarah Munculnya Syiah
Sepanjang sejarah itu, konflik Syiah selalu ada dalam dimensi-dimensi waktu yang berbeda dengan segala pernik persoalan. Kapan Syiah itu muncul, juga mengalami pertentangan.
Dilihat dari data sejarah, jika yang dimaksud dengan Syiah adalah kelompok yang mendasarkan paham keagamaan pada Ali bin Abu Tholib dan keturunannya (ahlul ba’it). Maka cikal bakal kemunculan kelompok Syiah sudah ada sejak awal kepemimpinan Islam pasca kerasulan Muhammad.
Kemunculan kelompok Syiah dipicu oleh perbedaan pandangan dikalangan para sahabat nabi. Dengan ahlul bait (keluarga nabi) tentang siapa yang menggantikan kedudukan Nabi SAW setelah meninggalnya.
Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah, muncul fakta ada sebagian dari umat Islam yang berpendapat bahwa sebenarnya Ali bin Abi Thalib-lah yang berhak memegang tampuk pimpinan Islam pada waktu itu.
Kepercayaan ini berpangkal pada pandangan tentang kedudukan Ali dalam hubungannya dengan Nabi, para sahabat dan kaum muslimin umumnya.
Sahabat Ali ra adalah orang terdekat nabi, sebagai menantu dari anaknya, Fatimah. Dalam perjuangan Islam, Ali juga tidak diragukan lagi pengorbanannya. Kuatnya keyakinan kelompok pendukung ali peristiwa Ghodir Khumm setelah menjalankan haji terakhir. Nabi memerintahkan pada Ali sebagai penggantinya dihadapan umat muslim, dan menjadikan Ali sebagai pelindung mereka (Tabbathaba’I, 1989).
Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diinginkan oleh kelompok Syiah. Menurut kalangan Syiah, ketika nabi wafat pada saat jasadnya terbaring belum dikuburkan. Ada kelompok di luar ahlul bait berkumpul untuk memilih kholifah bagi kaum muslimin, dengan alasan menjaga kesejahteraan umat dan memecahkan problem sosial saat itu.
Mereka melakukan itu tanpa berunding dengan ahlul-bait yang sedang sibuk dengan acara pemakaman. Sehingga Ali dan sahabat-sahabatnya dihadapkan kepada suatu keadaan yang sudah tidak mungkin diubah lagi, ketika Abu Bakar didaulat menjadi khalifah pertama. (Thabathab’I, 1989: 39).