Apakah Salah Umat Islam Marah Saat Nabi Muhammad Dihina?

Berita Islam –Akhlak dari Nabi Muhammad SAW merupakan dasar dan sumber acuan utama bagi umat Muslim di seluruh dunia.

Umat Muslim pun memang sepatutnya meneladani akhlak beliau. Apalagi di tengah fenomena Islamofobia yang terjadi sekarang ini. Contohnya seperti penerbitan kartun Nabi masih memperdaya masyarakat global.

Ketua Umum Rabithah Alawiyah Habib Zen bin Smith  menjelaskan lebih jauh mengenai akhlak Nabi Muhammad SAW  dan bagaimana sikap beliau saat menghadapi orang-orang yang menista dan membenci diriNya.

Seberapa penting umat Islam untuk mencintai Nabi Muhammad?

Menjadi seseorang yang beriman adalah nikmat terbesar bagi seorang Muslim. Kita tidak akan menjadi orang yang beriman dan tidan akan mengenal Islam jika Allah SWT tidak menciptakan manusia yang termulia yaitu Nabi Besar Muhammad SAW.

Dimana setelah itu Allah mendidiknya dan menjadikan beliau Nabi dan Rasul akhir zaman. Oleh sebab itu mencintai Nabi adalah bagian dari suatu keimanan.

Didalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:

“Demi yang jiwaku berada ditangan-Nya, seorang diantara kalian tidaklah beriman, sehingga aku lebih dia cintai dari kedua orang tua maupun anaknya.” 

Hadits ini diriwayatkan Imam Bukhari.

Nabi Muhammad sendiri adalah seorang manusia pilihan, bukan manusia biasa. Nabi Muhammad  adalah seorang manusia, namun bukan sembarang manusia. Dari situlah kemudian dimunculkan sisi kemanusiannya atau basyariah. Namun, kita juga harus sadar, bahwa seorang manusia yang dipuji bukan lagi oleh manusia biasa tetapi oleh Allah yang menciptakannya.

Lalu, bagaimana gambaran mengenai akhlak Nabi?

Dalam Islam mengajarkan kebaikan akhlak dan kesantunan dalam berinteraksi. Interaksi tersebut baik dengan sesama manusia Muslim ataupun denhan non-Muslim.

Namun, dalam Islam juga mengajarkan ketegasan dalam menjaga akidah dan menjaga iman kita.

Di dalam Alquran, Allah SWT sering memuji Rasulullah SAW, salah satunya dengan firman Allah dalam surat al-Qalam ayat 4:

“Wa innaka lalla khuluqin azhim (Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar memiliki akhlak yang mulia).” Maka, jika Allah sudah memuji, berarti beliau adalah orang yang harus dipuji oleh umat manusia.

Apakah salah seorang Muslim marah saat Nabi Muhammad dihina?

Dalam hadits disebutkan, tidaklah sempurna iman seseorang, jikalau dia tidak mencintai Nabi lebih dari ayah bundanya.  Lalu, bagaimana kita tidak merasa sakit hati, saat pribadi yang mulia ini dijadikan olok-olokan oleh pihak lain, hanya dengan dasar menghormati kreativitas?

Wajib hukumnya bagi seorang Muslim untuk menjaga kehormatan keluarganya saat dihina, apalagi jika yang dihina seorang Nabi akhir zaman kecintaan Allah, dimana yang iman kita juga diukur atas dasar kecintaan kita kepada beliau.

Disisi lain, reaksi yang baik adalah memberikan protes yang keras kepada pihak yang menghina maupun pemerintah yang mendukungnya. Caranya dengan memberi pengertian bahwa cara mereka itu bukanlah melindungi kreativitas, namun penghinaan yang tidak beradab.

Dimana mereka bangsa yang maju dan beradab pada kenyataannya adalah bangsa yang jauh dari kesantunan hubungan antar bangsa dan agama.

Bagaimana sikap Nabi ketika dinistakan dan dibenci musuh Islam?

Walaupun Nabi Muhammad SAW sering mendapat hinaan, namun beliau memiliki pribadi yang sangat santun dan luar biasa.  Beliau tetap bersabar bahkan mendoakan, sebagaimana awal dakwah beliau di Thaif.

Nabi menjawab permintaan malaikat untuk menghancurkan kota tersebut dengan jawaban:

“Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesung guh nya mereka tidak mengetahui.” Lihat, alangkah sabar dan indahnya doa ini yang pada saat itu masyarakatnya belum mengenal Islam.

Dan setelah Islam tersebar dan manusia diberi pemahaman tentang Islam, jika ada penghinaan terhadap agama, kita wajib memberi penerangan secara baik.

Namun, jika mereka masih mengganggu maka kita harus melawannya.

Seperti dalam sebuah hadits yang menyatakan bahwa barang siapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, hendaklah ia meng ubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia masih tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.

Author: pangeranbertopeng