Apakah Boleh Bersumpah Atas Nama Allah?

kematian-dalam-islam

Berita Islam – Seseorang sering kali terdengar mengucapkan pernyataan atau kesaksian mengenai sebuah kejadian dan dikuatkan dengan menggunakan kalimat sumpah. Tak tanggung-tanggung, mereka akan dengan mudaj mengucapkan kalimat sumpah dengan menyebut nama Allah, seperti yang biasa diucapkan ‘demi Allah’.

Lalu, bagaimana hukum yang sebenarnya dalam menggunakan kalimat sumpah atas nama Allah?

Ustaz Syahrullah Iskandar yang seorang Pengasuh Pondok Pesantren Pasca Tahfidz Bayt Al Quran yang juga seorang dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjelaskan, bahwa dalam Alquran ada beberapa ayat yang menekankan sakralnya sumpah.

Salah satunya ada dalam pada Surat al-Maidah ayat 89 yang tersebut berbunyi:

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah- sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan 10 orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya).”

Ustaz Syahrullah mengatakan , bahwa kalimat wahfadzuu aimaanakum dalam ayat tersebut dijelaskan Ibnu Ajibah al-Hasani dalam al-Bahr al-Madid pada juz II halaman 210, sebagai perintah untuk menjaga lidah dari banyak bersumpah.

Ustaz Syahrullah juga menjelaskan, jika kalimat sumpah menjadi semacam pembatas bagi penuturnya untuk tidak melanggarnya.

Halini disebabkan karena sumpah tidak sembarangan diucapkan melainkan hanya boleh diucapkan ketika diperlukan, seperti saat memberikan kesaksian ataupun situasi penting lainnya.

Seperti dalam penyampaian sebuah berita atau kabar informasi. Pada dasarnya dapat dilakukan normal tanpa diperlukan kalimat sumpah sebagai penguat atau pengukuhan.

Namun, yang terjadi sekarang, terkadang seseorang akan menambahkan kalimat pengukuhan (kalimat taukid) dalam membuat berita atau kabar yang akan disampaikan. Sampai, ada pula yang membubuhkan kalimat sumpah atas nama Allah.

Ustaz Syahrullah berpendapat, bahwa kondisi ini terjadi ketika penyampai berita merasa sangat perlu menggunakan kalimat sumpah karena ada orang yang tidak percaya pada kabar yang diberikannya.

Atau bisa juga seseorang yang seringkali menggunakan kalimat sumpah dalam kabar berita yang disampaikannya menjadi penanda sudah hilangnya kepercayaan orang lain pada dirinya.

Tidak sampai disitu, Ustaz Syahrullah pun menjelaskan hal mengenai al-Raghib al-Ashfahani dalam karyanya Muhadharat al-Udaba wa Muhawarat al-Syu’ara wa al-Bulaghapada juz II, halaman 133.

Dilansir dari beberapa ungkapan terkait sumpah ini, dia mencantumkan salah satu ungkapan yang dinisbahkan ke pada al-Muhasibi.

Al- Raghib menuliskan bahwa ciri-ciri seseorang yang berbohong adalah sangat mudah bersumpah meski tidak dimintai sumpah.

Salman al-Farisi juga meriwayatkan bahwa ada tiga golongan orang yang tidak diajak bicara oleh Allah, tidak disucikan, bahkan menerima siksa yang pedih pada hari kemudian. Yaitu adalah orang yang menjadikan Allah sebagai barang dagangannya.

Keterangan ini tercantum dalam hadis riwayat at-Thabarani.

“Orang yang menjadikan sumpah atas nama Allah sebagai komoditas kepentingan duniawinya dapat saja tergolong kelompok ini,” ucap Ustaz Syahrullah.

Ada sebuah bait syair dari al-Mutanabbi yang dapat menjadi bahan renungan mengenai apa akibat dari mudahnya bersumpah.

Dalam syairnya, al-Mutanabbi mengatakan, akhir dari sumpah adalah penyesalan. Oleh sebab itu, walaupun bersumpah atas nama Allah itu diperbolehkan, namun harus hati-hati dalam menggunakannya.

“Waspadalah menjadikan sumpah sebagai hiasan tuturmu. Jangan paksa orang percaya dengan sumpahmu. Kita harus hati-hati bersumpah atas nama Allah SWT,”  kata Ustaz Syahrullah.

 

Author: pangeranbertopeng