Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari, Ruang Pembelajaran Toleransi Islam

Berita Islam – Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari menjadi salah satu destinasi wisata edukasi religi yang menyimpan jejak panjang perkembangan Islam di Nusantara. Berlokasi di kawasan Pesantren Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Museum ini tidak hanya menghadirkan koleksi sejarah, tetapi juga narasi tentang peran ulama dalam perjalanan bangsa. Dengan konsep modern dan nilai historis yang kuat, museum ini menjadi ruang pembelajaran tentang Islam yang damai, toleran, dan berakar pada budaya lokal.

Awal Pembangunan dan Peresmian Museum

Sejarah berdirinya Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asyari tidak lepas dari gagasan untuk menghadirkan pusat edukasi sejarah Islam di Indonesia. Dinukil dari museum.kemenbud.go.id, ide pendirian museum ini digagas oleh Salahuddin Wahid yang terinspirasi dari banyaknya peziarah di kawasan makam Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ).

Ia ingin agar para pengunjung tidak hanya berziarah, tetapi juga memahami kontribusi besar umat Islam dalam perjalanan bangsa. Pembangunan museum dimulai pada tahun 2014 dan berada di lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, pesantren yang didirikan oleh Hasyim Asyari pada 1899.

Museum ini kemudian diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 19 Desember 2018. Hal itu sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa ulama dan kontribusi umat Islam dalam sejarah Indonesia.

Nama museum ini diambil sebagai penghormatan kepada pahlawan nasional sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asyari. Setelah sempat melalui masa persiapan operasional, museum ini resmi dibuka secara penuh untuk umum pada 10 November 2021.

Koleksi Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari

Museum Islam Indonesia K.H. Hasyim Asy’ari berisi koleksi dan informasi yang menjelaskan sejarah masuknya Islam ke Tanah Air yang dimulai dari berbagai wilayah di abad 19. Kamu juga bisa belajar era masuknya agama Islam di Indonesia hingga munculnya kerajaan Islam serta menyelami sejarah tokoh dan pergerakan. Informasi ini disajikan dalam bentuk infografis yang dipajang di sepanjang dinding museum sehingga kamu bisa mencernanya dengan mudah.

Ada pula replika peninggalan K.H. Hasyim Asy’ari seperti kursi kayu yang pernah didudukinya, centong nasi, kitab kuno dan tongkat kayu. Ada satu kitab kuno yang merupakan peninggalan sang ulama yang dipinjam dari perpustakaan ponpes Tebuireng. Selain itu diperkirakan ada sebanyak 300an koleksi benda bersejarah mengenai masuknya Islam ke Nusantara.

Tersedia pula ruangan Pojok Konservasi di mana pengunjung bisa mencoba simulasi merawat dan memelihara gerabah untuk berlatih merawat barang peninggalan. Seperti diketahui, museum juga memiliki sejumlah koleksi berbahan dasar tanah liat yang rutin dikonservasi seperti gentong.

Peran Edukasi dan Nilai Toleransi

Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi. Tujuan utama pembangunan museum ini adalah untuk memperkuat pendidikan karakter dan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang sejarah perjuangan umat Islam.

Melalui berbagai program seperti “Resolusi Jihad” dan “Bulan Gus Dur”, museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari mengangkat nilai-nilai toleransi, inklusivitas, dan kebhinekaan dalam Islam Indonesia, dikutip dari iha.kemenbud.go.id.

Kemudian narasi yang dibangun dalam museum menegaskan bahwa Islam di Indonesia berkembang secara damai dan mampu hidup berdampingan dengan budaya lokal.

Author: pangeranbertopeng