Berita Islam – Wabah virus corona yang melanda dunia (termasuk dunia Islam) berakibat merevolusi tatanan kehidupan manusia.
Dilansir dari Organisasi Konferensi Islam (www.oic-oci.org), tercatat total kasus wabah ini berjumlah 1.155.328 dengan angka kematian 26.827.
Wabah Shirawih
Di dunia Islam, tidak hanya sekali ini saja mengalami pandemi. Tercatat wabah pertama dalam sejarah Islam terjadi pada masa kenabian sekitar tahun 627-628 M.
Wabah ini dikenal dengan wabah shirawih. Terjadi karena dinisbahkan kepada nama raja Dinasti Sasanian Persia, Siroes (Kobad III) dan muncul pertama kali di kota Ctesiphon (Mada’in, Irak).
Siroes meninggal karena wabah ini dan wabah ini menjadi salah satu sumber kemunculan riwayat-hadits tentang wabah pada era kenabian khususnya di Madinah, di mana Nabi berhijrah tahun 622 M.
Wabas Amwas
Namun yang paling banyak diingat di awal sejarah Islam adalah wabah amwas (Emmaus) atau wabah Siria. Wabah ini terjadi sekitar tahun 17/18 H atau 638/639 M, 6 tahun setelah Nabi wafat. Atau pada masa kekhalifahan Umar bin Al-Khatab ra.
Wabah ini terjadi di sebuah kota kuno di Palestina yang termasuk wilayah Syam saat itu (Suriah). Wabah ini ditimbulkan oleh kutu yang terinfeksi bakteri yersinia pestis yang dibawa oleh binatang kecil semacam serangga.
Wabah Amwas menewaskan kurang lebih 25 ribu pasukan muslim yang sedang berhadapan dengan tentara Bizantium. Termasuk para sahabat senior antara lain Abu Ubaidah bin Jarrah ra, Muadz bin Jabal ra, Syurahbil bin Hasanah ra, Yazid bin Abi Sufyan radan Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah ra.
Ada 3 analogi yang mencerminkan bagaimana umat Islam merespons wabah penyakit dan mengubah paradigma terhadap wabah sebelumnya, yaitu:
- Wabah adalah keberkahan dan kesyahidan dari Tuhan serta hukuman untuk orang yang ingkar (kafir);
- Orang Islam tidak boleh meninggalkan dan atau memasuki wilayah yang terpapar wabah;
- Adanya kepercayaan bahwa penyakit itu tidak ada apalagi menular (hadits “la ‘adwa-tidak ada penularan penyakit”) karena Tuhanlah yang mengirimkan penyakit hingga menimbulkan sikap jabr-pasrah (Dols: 1974).
Wabah Black Death
Wabah terparah selanjutnya dinamakan wabah Black Death (maut hitam). Awal penyebaran wabah dari Eropa, Asia dan Afrika pada abad ke 14 M.
Setelah itu memasuki dunia Islam melalui kota-kota besar di Timur Tengah (1347-1349 M). Seperti Makkah, Madinah, Kairo, Kairouan (Tunisia), Damaskus, Mosul, Basrah, Baghdad, Palestina, Konstantinopel.
Wabah Black Death menyebabkan kematian kurang lebih 200 juta orang di seluruh dunia.
Seorang sejarawan, Al-Maqrizi melukiskan penyebaran wabah ini terjadi di Kairo pada Ramadhan 749 H/Januari 1349 M. Saat itu banyak orang yang tertular dengan tanda awal meludah darah, demam tinggi, mual lalu meninggal, sehingga masjid ditutup dan ibadah shalat jumat ditiadakan.
Sejarawan lain, Al-‘Aini, menambahkan, ketika orang lain bertatap muka dengan orang yang terkena virus, maka dalam beberapa langkah, ia langsung meninggal.
Dan sejarawan Al-Dzahabi mencatat di Cordoba masjid-masjid ditutup. Sedang Ibnu Hajar Al-Asqalani melaporkan di Makkah setiap hari rata-rata sekitar 40 orang meninggal.
Penyikapan muslim akan wabah ini paling tidak terbagi dari sudut pandang teologi dan sains. Bahkan keduanya berlawanan kontradiktif selain juga terjadi konvergensi, di mana dalam kasus Ibnu al-Khatib (1313-1375 M), seorang dokter ahli epidemiologi di Granada Andalusia (Spanyol), yang melakukan penelitian empiris mengenai penyebab wabah black death saat itu.
Dari sisi teologi dan sejarah Islam, banyak karya-karya khusus mengenai wabah (tha’un) yang dihasilkan oleh para ulama berkisar ratusan (termasuk dari sisi sains).
Yang terpopuler adalah karya Badhlu al-Ma’un fi Fadhli at-Tha’un oleh Ibnu Hajar AlAsqalani (w. 1449 M) dan Jalaludin As-Suyuthi (w. 1505 M) seorang ulama multi keahlian (polymath) dalam Ma Rawahul-wa’un fi Akhbar at-Tha’un.
Demikian menandakan wabah dalam sejarah Islam direspons dengan sangat dinamis oleh para pemeluknya dan menunjukkan Islam adalah ajaran yang sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dalam hal ini kesehatan, wabil khusus epidemiologi.