Bulan Baik Islam untuk Menikah

Berita Islam – Menikah adalah momen sakral dalam kehidupan setiap pasangan muslim. Allah SWT telah menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan agar mereka mengingat kebesaran Allah SWT.

Pemilihan bulan pernikahan yang tepat diyakini dapat membawa kebaikan. Pada tahun 2025 ini, terdapat beberapa bulan baik yang dapat dipilih untuk melangsungkan pernikahan.

Sebenarnya dalam agama Islam, tidak ada larangan spesifik mengenai bulan tertentu untuk menikah. Semua bulan dan hari dalam agama Islam adalah baik. Namun, ada beberapa bulan yang secara historis dan cultural dianggap lebih baik untuk melangsungkan pernikahan.

Bulan yang Baik untuk Menikah

1. Bulan Syawal

Bulan Syawal merupakan bulan berkah untuk melangsungkan pernikahan. Dirangkum dari buku Rahasia Rumah Tangga Rasulullah SAW oleh Yoli Hemdi dan Naura Shafwa, Rasulullah SAW melangsungkan pernikahannya dengan Aisyah pada bulan Syawal. Hal tersebut untuk mematahkan tradisi Arab pra-Islam yang menganggap Syawal sebagai bulan sial untuk melangsungkan akad dan menikah.

Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan beliau menggauliku pada bulan Syawal.” (HR Tirmidzi)

Keutamaan menikah di bulan Syawal:

    • Mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang juga melangsungkan pernikahan pada bulan Syawal
    • Menepis anggapan orang jahiliyah bahwa kesialan akan menghantui hidup bagi yang menikah di bulan Syawal.

2. Bulan Rajab

Selain bulan Syawal, bulan Rajab juga dipandang sebagai bulan baik untuk menikah. Terdapat beberapa alasan mengapa bulan Rajab dianggap sebagai bulan yang baik untuk melangsungkan pernikahan.

Dalam QS. At Taubah:36, ada 4 bulan yang dikatakan sebagai bulan haram (suci). Berikut arti dari penggalan ayatnya:

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah (di Lauh Mahfuz) pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu padanya (empat bulan itu), dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.

Tafsir mengatakan bahwa 4 bulan di antara 12 bulan tersebut adalah bulan Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Inilah mengapa Rajab dikatakan sebagai salah satu bulan baik untuk melakukan ibadah, misalnya menikah.

Selain itu bulan Rajab juga merupakan bulan dimana orangtua Rasulullah SAW menikah. Bulan Rajab juga merupakan bulan dimana Sayidah Aminah hamil dan mengandung Rasulullah SAW.

3. Bulan Rabiul Awal

Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang baik untuk menikah. Merujuk pada buku Meneladani Rasul dan Para Sahabat oleh A. Fatih Syuhud, Rasulullah SAW menikahkan putri ketiganya, Ummi Kultsum pada bulan Rabiul Awal.

Ummi Kultsum menikah dengan Utsman bin Affan pada bulan Rabiul Awal tahun ke-3 hijrah. Pernikahan antara Ummi Kultsum dengan Utsman bin Affan adalah perintah Allah SWT secara langsung.

4. Bulan Safar

Selanjutnya ada anggapan turun-temurun bahwa bulan Safar dianggap bulan yang buruk untuk menikah. Kembali lagi, tidak ada bulan yang buruk atau kejepit untuk melangsungkan pernikahan.

Bahkan, pernikahan Rasulullah dengan Sayyidah Khadijah berlangsung di bulan Safar. Hal ini sesuai riwayat Ibnu Ishak, Rasulullah SAW menikahi Sayyidah Khadijah binti Khuwailid yang disebut sebagai “Ummul Mukminin” tepat pada bulan Safar, yakni ketika Rasulullah SAW berusia 26 tahun.

Selain itu, sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib RA menikah juga pada bulan Safar. Menurut keterangan Ibnu Katsir, bulan Safar juga menjadi bulan pernikahan putri Rasulullah, Sayyidah Fatimah RA dengan sahabatnya yang pandai, yakni Ali bin Abi Thalib RA.

5. Bulan Muharram

Merujuk pada buku Baiti Jannati: Keluarga yang Diberkahi Allah oleh Malik al-Mughis, setiap muslim tidak boleh menghukumi adanya hari sial atau hari baik, kecuali dengan dalil yang terpercaya. Sebab, percaya dengan hari sial merupakan bentuk takhayul atau thiyarah (merasa sial setelah melihat atau mendengar sesuatu).

Mengadakan pernikahan di bulan Muharram (atau bulan Suro dalam sebutan orang Jawa) merupakan salah satu bentuk kesialan. Namun, Rasulullah SAW membantah pernyataan itu.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada penyakit menular, thiyarah, dan burung hantu, dan safar (yang dianggap membawa kesialan). Dan larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mempercayai kesialan seperti thiyarah bukanlah sifat seorang muslim, sebab hal tersebut merupakan kemusyrikan. Rasulullah SAW bersabda, “Thiyarah adalah kesyirikan. Thiyarah adalah kesyirikan.” (HR Abu Dawud)

Author: pangeranbertopeng