Berita Islam – Salah satu sholat yang dianjurkan oleh para ulama adalah sholat dhuha.
Menurut ulama mazhab, ada beberpa hal yang harus diketahui terkait dengan sholat dhuha. Ustadz Muhammad Ajib dari Rumah Fiqih menjelaskan hal-hal tersebut sebagai berikut:
Pertama
Dia juga berkata bahwa, Imam An Nawawi, seorang ulama besar Mazhab Syafi’i menyebutkan hukum mengenai sholat dhuha menurut para ulama syafiiyah adalah sunnah mu’akkadah.
Dan juga mayoritas ulama empat mahzab mengatakan bahwa sholat dhuha hukumnya adalah sunnah muakkadah.
Ini adalah pendapat Mazhab syafi’i dan madzhab mayoritas ulama dan juga pendapat para ulama muta’akhirin.
Kedua
Sejak mulai ketika matahari sudah terbit sempurna bulatannya sampai menjelang adzan Zuhur adalah waktu pelaksanaan sholat dhuha.
Di mana memiliki arti, sholat dhuha boleh dilakukan di awal waktu misalnya pukul 06.00 WIB dengan syarat matahari sudah sempurna bulatannya. Dan juga boleh dilakukan di akhir waktu mepet dengan waktu Zuhur dengan syarat belum adzan Zuhur atau belum masuk waktu Zuhur.
Akan tetapi, sekitar pukul 09.00 WIB keataslah, waktu yang paling utama untuk mengerjakan sholat dhuha. Ini dikarenakan para ulama mengatakan waktu yang utama itu setelah seperempat waktu siang terlewati atau ketika sinar matahari mulai menyengat.
Waktu sholat dhuha, disebutkan oleh Imam an-Nawawi adalah sejak ketika matahari terbit sampai dengan waktu zawal (waktu datangnya sholat Zuhur). Disisi lain, Imam al-Mawardi menyebutkan jika waktu yang bagus adalah ketika seperempat siang sudah berlalu.
Waktu afdhal ini didasarkan pada hadits sahih, dari Zaid bin Arqam, sesungguhnya Nabi SAW bersabda:
صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ
”Sholat awwabin (dhuha) itu ketika sinar matahari sudah menyengat.” (HR Muslim)
Ketiga
Dalam hadits sholat sunnah berjamaah yang utama hanya ada lima, yakni sholat id, sholat istisqa, sholat gerhana, sholat tarawih dan sholat witir, oleh karena itu sholat dhuha disunnahkan untuk sholat sendiri.
Namun jika ingin mengerjakan sholat dhuha secara berjamaah juga dibolehkan dan tidak makruh.
Keempat
Mengenai jumlah rakaat, para ulama sepakat bahwa jumlah minimal rakaat untuk sholat dhuha adalah dua rakaat. Namun, banyak pula ulama yang memiliki pendapat yang berbeda dalam menentukan jumlah maksimal rakaat sholat dhuha.
Mayoritas ulama khususnya dalam Mazhab syafi’i mengatakan bahwa maksimal rakaat sholat dhuha adalah delapan rakaat. Namun, sebagian ulama seperti Imam ar-Rafi’i dan Imam ar-Ruyani mengatakan maksimal 12 rakaat.
Sementara itu, Imam an-Nawawi seorang ulama besar madzhab Syafi’i menyebutkan sholat dhuha minimal dua rakaat, paling banyak adalah delapan rakaat.
Semua ini adalah pendapat mushonnif dan mayoritas ulama.
Untuk Imam ar-Rafi’iy dan Imam ar-Ruyani yang mengatakan paling banyak 12 rakaat, mereka memakai Dalil yang dipakai mayoritas ulama.
Itu adalah hadits yang diriwayatkan Imam Abu Dawud, dari Ummu Haani’ beliau berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW pada saat pembebasan kota Makkah melakukan sholat dhuha delapan rakaat, dan beliau salam setiap dua rakaat.” (HR. Abu Dawud).
Lalu untuk dalil yang dipakai Imam ar-Rafi’i dan Imam ar-Ruyani adalah hadits yang diriwayatkan Imam al-Baihaqi, dari Abu Dzar, beliau berkata, Nabi SAW bersabda:
إن صليّت الضّحى ركعتين لم تُكتب من الغافلين، وإن صلّيتها أربعاً كُتِبتَ من المُحسنين، وإن صلّيتها ستّاً كُتِبتَ من القانتين، وإن صلّيتها ثمانياً كُتبتَ من الفائزين، وإن صلّيتها عشراً لم يُكتب عليك ذلك اليوم ذنب، وإن صلّيتها اثنتي عشرة ركعة بَنى الله لك بيتاً في الجنّة
“Jika kamu sholat dhuha dua rakaat maka tidak akan dicatat sebagai orang yang lalai, jika kamu sholat empat rakaat maka akan dicatat sebagai muhsinin, jika kamu sholat enam rakaat maka dicatat sebagai orang yang sering berdiri sholat, jika kamu sholat delapqn rakaat maka dicatat sebagai orang yang sukses atau beruntung, jika kamu sholat 10 rakaat maka dosamu tidak akan dicatat di hari itu, jika kamu sholat 12 rakaat maka Allah akan bangunkan rumah di surga bagimu.” (HR al-Baihaqi dan beliau mendhaifkannya).
Imam an-Nawawi mengatakan jika ingin mengerjakan sholat dhuha dengan jumlah rakaat sedikit adalah empat rakaat. Walaupun sebenarnya diperbolehkan jika hanya dua rakaat. Namun, akan lebih bagus jika empat rakaat.
Kelima
Cara mengerjakannya sholat dhuha sama dengan sholat lainnya. Dikerjakan dengan dua rakaat salam dua rakaat salam.
Saat melaksanakan sholat sunnah dhuha, bacaan yang dianjurkan untuk dibaca adalah surat as-Syams di rakaat pertama dan surat ad-Dhuha di rakaat kedua.
Namun, ada juga hadits yang mengatakan bahwa di rakaat pertama dapat membaca surat al-Kafirun dan rakaat kedua membaca surat al-Ikhlas.
Dan ini adalah yang paling afdhal menurut Imam ar-Ramli yang juga ulama Mazhab Syafi’i.