Berita Islam – Masjid raya di Kota Makhachkala, Dagestan, Federasi Rusia, ini mengusung gaya arsitektur Utsmaniyah. Masjid ini menjadi salah satu kebanggaan bagi kaum Muslimin di Dagestan. Wilayah itu adalah salah satu negara dalam lingkup Federasi Rusia. Letak masjid ini berada di ibu kota Dagestan, Makhachkala.
Tempat ibadah Islam ini menjadi kebanggaan publik setempat karena statusnya yang menyandang sebagai salah satu masjid terbesar di Eropa. Daya tampung dalam satu kali ibadah bisa mencapai lebih dari 15 ribu jamaah.
Tapi, bukan hanya besar bangunannya yang membuat masjid ini menjadi tampak memikat. Namun, para pelancong yang kebetulan singgah ke Makhachkala akan dibuat terpesona karena melihat gaya arsitektur bangunan masjid ini.
Sejarah Masjid Agung Makhachkala
Masjid Agung Makhachkala mengawali proses pembangunannya pada 1996. Pada saat awal, masjid ini hanya memiliki daya tampung tak lebih dari 8.000 jamaah. Namun, membeludaknya jamaah pada saat shalat Jumat dan hari libur, terbetiklah ikhtiar untuk melakukan perluasan masjid.
Tak banyak informasi yang menjelaskan areal yang mengalami perluasan itu pada bagian apa saja. Termasuk, juga pada bangunan yang sekarang ini hanya berapa persennya dari bangunan orisinalnya.
Namun, yang dapat dijelaskan dampak dari perluasan masjid itu, daya tampung masjid mampu mencapai 15 ribu jamaah. Boleh dibilang kapasitas baru nyaris dua kali lipat dari bangunan awal.
Dalam sejumlah situs lainnya disebutkan, pada proses pembangunan ini sudah terjalin hubungan dengan Turki. Hubungan itu tak hanya sebatas donasi dalam bentuk dana segar untuk pembangunan masjid. Namun, hubungan terus berlanjut sampai proses untuk memakmurkan masjid.
Sampai Mei 1998, perwakilan dari Turki secara formal menjadi imam di masjid ini. Badan agama Islam Dagestan secara aktif berhubungan dengan Turki dengan mediasi dari seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat Turki dan keturunan imigran asal Dagestan, Mahdi Pasha Sungurov. Ini menjadi bentuk totalitas Turki untuk membuat umat Muslim di Makhachkala agar selalu ringan langkahnya menuju masjid yang mereka banggakan.
Pengaruh Arsitektur Turki
Dari luar, tampak nyata adanya pengaruh arsitektur Turki Utsmani. Bahkan, seperti tertulis di situs resmi masjid ini, desain utamanya mengadopsi pada bangunan Masjid Biru di Istanbul, Turki. Kuatnya pengaruh Turki ini menjadi hal yang sangat wajar pada Masjid Agung Makhachkala.
Di Masjid Agung Makhachkala ini, total kubah masjidnya berjumlah 57. Kubah utamanya berada di bagian teratas dengan ukuran paling besar. Lalu, kubah yang berukuran lebih kecil berada di bagian bawah kubah utama. Kubah-kubah kecil itu kemudian membentuk pola bertumpuk layaknya Masjid Biru.
Selain kubah bertumpuk, hadir juga dua buah menara atau minaret. Dua minaret ini hasil adopsi arsitek Mimar Sinan. Ia adalah sosok paling berpengaruh dalam perancangan sejumlah masjid di Turki pada masa kekhalifahan Utsmani.
Menara hasil rancangannya tersebut memiliki bentuk kotak pada bagian dasar. Setelah itu, dipadukan dengan bentuk silinder yang ramping. Pada bagian atas minaret, dihadirkan bentuk kerucut. Pada minaret di masjid ini terdapat dua balkon kecil.
Hadirnya bentuk kubah dan minaret pada Masjid Agung Makhachkala inilah yang membuatnya begitu kuat diasosiasikan dengan gaya arsitektur masjid Turki. Tampilan itu terasa lengkap dipandang ketika bagian luar itu dilumuri oleh cat berwarna putih susu. Kala malam tiba, pendaran putih dari kubah dan menara akan menjadi sangat terlihat nyata. Inilah pesona yang tersaji di bagian luar.
Bagian Dalam Masjid
Di bagian dalam masjid ini akan terlihat bangunan dua lantai. Namun, dari kedua lantai itu, pandangan mata kali pertama akan tersedot untuk melihat lampu gantung. Lampu gantung seberat hampir satu ton itu berada di bagian tengah. Dalam situs culture.ru disebutkan chandelier itu didatangkan dari Suriah. Ketika lampu penerang dinyalakan, pendaran kuning keemasan akan menerangi seluruh ruang tempat ibadah, sekaligus juga memberikan kehangatan bagi para jamaah yang berada di dalamnya.
Keindahan lainnya terletak juga pada permainan hiasan dengan pola geometri dan flora. Pola hias ini hampir mengisi bagian langit-langit masjid. Terutama, pada bagian dalam kubah yang dihiasi juga dengan permainan warna-warnanya yang cerah.
Hiasan kaligrafi berbahasa Arab ini juga tertera di beberapa bagian. Semuanya diselaraskan dengan bentuk geometris yang berulang serta racikan warna yang cerah.
Semua ornamen hias itu seakan memberikan keanggunan pada pola tata ruang. Tata ruang yang lapang itu sesungguhnya masih diberikan kesan ‘ramai’ melalui permainan lengkungan yang menghubungan antarpilar yang menopang puluhan kubah. Inilah sebuah keindahan sekaligus pesona yang tersaji dari gaya arsitektur Turki. Itu bisa dilihat di sebuah masjid yang berjarak ribuan mil jauhnya dari Turki.