Berita Islam – Di saat masa pandemi seperti ini, banyak orang kesulitan dalam menjalani hidup. Beberapa orang kesulitan menjalani hidup karena tidak memiliki pekerjaan, sehingga kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga untuk mencari makan. Itulah sebabnya saat ini masih banyak orang miskin yang turun ke jalan untuk mencari uang.
Ditengah-tengah kondisi seperti ini, banyak orang yang ingin membantu sesama dengan cara memberi uang ataupun makanan. Hal tersebut tentunya baik untuk dilakukan karena membantu meringankan beban orang lain, namun karena media sosial saat ini semakin canggih, banyak orang memberi hanya untuk direkam dan dijadikan konten di sosial media. Kegiatan ini merupakan salah satu contoh dari sifat riya yang harus kita jauhi sebagai umat muslim.
Lalu sebenarnya apa itu riya? Riya berasal dari kata di bahasa Arab yakni arriya’ (الرياء) dan memiliki makna memperlihatkan. Dalam kasus ini, Riya’ merupakan kegiatan yang mencoba untuk memperlihatkan amalan baik yang sudah kita lakukan dengan tujuan untuk mendapatkan perhatikan dan pujian dari orang lain. Hal ini tentunya tidak baik untuk dilakukan, karena seharusnya ibadah dan amalan baik hanya ditujukan & diniatkan untuk Allah SWT. Oleh sebab itu dalam Islam, umat muslim dilarang untuk melakukan riya karena sifat tersebut merupakan sifat kemunafikan dan kesyirikkan.
Allah SWT dan Rasulullah membenci akhlak riya, karena niat amalan baik yang dilakukan dari perbuatan riya termasuk ke dalam niat yang buruk, yakni ingin mendapatkan perhatian dan pujian dari orang lain. Oleh sebab itu umat Muslim diperintahkan untuk menghindarinya diberbagai macam kondisi. Sebagai umat muslim, jangan sampai apa yang kita gunakan, apa yang kita makan, apa yang kita miliki, apa yang kita lakukan kita pamerkan hanya untuk mendapatkan perhatian dari orang lain karena hal tersebut juga termasuk riya.
Dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman mengenai riya di surah Al-Baqarah ayat 264 yang berisi :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
yā ayyuhallażīna āmanụ lā tubṭilụ ṣadaqātikum bil-manni wal-ażā kallażī yunfiqu mālahụ ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, fa maṡaluhụ kamaṡali ṣafwānin ‘alaihi turābun fa aṣābahụ wābilun fa tarakahụ ṣaldā, lā yaqdirụna ‘alā syai`im mimmā kasabụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn
artinya :
Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT mengatakan bahwa jika seseorang memiliki sikap riya, maka Allah SWT akan senantiasa menghapus pahala atas kebaikannya tersebut. Selain itu dalam sebuah hadits, Rasulullah pun menekankan bahaya dari riya. Isi hadits tersebut yakni :
Rasulullah bersabda: “Man ro-a ro-allahu bihi wa man samma’a samma’a bihi.”
Yang artinya:
“Barangsiapa yang berbuat riya (pamer), maka Allah akan mempertunjukkan aibnya (di hari kiamat). Dan barang siapa yang ingin agar amalnya didengar, maka Allah akan memperdengarkan aibnya (pada hari kiamat),”.