Berita Islam – Perang Uhud adalah pertempuran besar antara umat Islam dan kaum Quraisy, yang berlangsung di sebuah lembah di utara Gunung Uhud di dekat Madinah. Perang Uhud terjadi pada 7 Syawal 3 Hijriah atau 23 Maret 625 Masehi dan dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW. Perang tersebut menjadi kenangan penting dalam sejarah islam.
Sebab, pada peperangan tersebut kaum muslimin yang hanya berjumlah 1.000 pasukan harus melawan kaum kafir Quraisy sebanyak 3.000 pasukan. Dijelaskan dalam buku Sang Panglima Tak Terkalahkan “Khalid Bin Walid” karya Hanatul Ula Maulidya, pasukan Quraisy terdiri dari 200 pasukan berkuda, 700 pasukan berkendara unta, dan sisanya pasuka pemanah serta pejalan.
Sementara itu, 1.000 pasukan muslimin terdiri dari gabungan orang Makkah dan Madinah. Namun, dalam perjalanan menuju Gunung Uhud, Abdullah bin Ubay salah satu pemimpin bani terbesar di kaum Quraisy membelot dan membawa 300 pasukan muslimin, karenanya sisa dari prajurit muslim yang ada hanya 700 orang.
Meski Abdullah bin Ubay berkhianat, Nabi SAW tetap fokus pada kaum muslimin dan tidak mengambil pusing pembelotan tersebut. Rasulullah SAW sebagai pemimpin dari perang tersebut melakukan persiapan matang untuk menghadapi kaum kafir Quraisy.
Latar Belakang Perang Uhud
Perang Uhud terjadi karena banyak faktor, mulai dari faktor agama, sosial, ekonomi, dan politik.
Berikut ini beberapa latar belakang Perang Uhud.
- Balas dendam kaum Quraisy atas terbunuhnya saudara-saudara mereka dalam Perang Badar (624).
- Kaum kafir Quraisy ingin menghabisi umat Muslim sebelum menjadi kekuatan yang akan selalu mengancam eksistensi mereka di jazirah Arab.
- Gerakan umat Muslim berdampak pada perekonomian kaum Quraisy karena ruang lingkup perekonomian mereka menjadi terbatas.
- Ingin mengembalikan kekuatan politik Quraisy yang mengalami keruntuhan sejak kekalahan mereka dalam Perang Badar.
Lantas, apa alasan kekalahan pasukan muslim di Perang Uhud?
Alasan Kalahnya Prajurit Muslim pada Perang Uhud
Mengutip dari buku Islam at War yang ditulis oleh George F Nafziger, meski jumlah antara pasukan muslim dan kafir Quraisy berbanding terbalik, ketika peperangan berlangsung kaum muslimin sempat unggul. Bahkan pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan terlihat kewalahan.
Keunggulan ini disebabkan strategi Rasulullah SAW yang menempatkan 150 pasukan pemanah di atas bukit untuk melindungi pasukan yang berada di bawah bukit. Nabi Muhammad SAW menginstruksikan pasukan pemanah dalam Perang Uhud untuk tidak berpindah dari posisi mereka dan selalu waspada, apapun yang terjadi.
Sayangnya, imbauan beliau tidak dihiraukan. Ketika pasukan Quraisy kewalahan dan korban berjatuhan, pemanah muslimin justru berbondong-bondong turun dari bukit dan berebut harta rampasan perang. Padahal, Rasulullah SAW sudah menginstruksikan mereka untuk tetap pada posisi.
Hal tersebut lantas mengakibatkan pasukan Quraisy yang sebelumnya sudah mundur menjadi kembali karena aman dari ancaman pemanah. Korban dalam Perang Uhud tercatat menjadi yang terbanyak selama Rasulullah SAW masih hidup, yaitu 72 orang.
Dalam Perang Uhud, sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib ikut gugur. Ia dibunuh oleh Wahsyi bin Harb, seorang budak Quraisy yang kemudian masuk Islam.