Ragam Tradisi Islam di Tanah Air

Berita Islam – Indonesia sebagai negara yang kaya akan budaya memiliki berbagai jenis tradisi yang terus dilestarikan. Hal ini termasuk dengan tradisi Islam di Nusantara yang beragam jenisnya dan menarik untuk diketahui guna menambah wawasan. Sebab, pendekatan awal Islam di Indonesia beriringan dengan tradisi yang ada agar bisa lebih diterima oleh masyarakat secara luas.

Tradisi Islam di setiap daerah juga terdapat perbedaan dan beraneka ragam. Masing-masing suku memiliki adat dan budayanya sendiri sehingga tercipta tradisi Islam yang beragam pula di Nusantara.

Pengertian Tradisi

Dikutip dari buku Tradisi, Agama, dan Akseptasi Modernisasi pada Masyarakat Pedesaan Jawa Bungaran Antonius Simanjuntak, (2016:145), tradisi merupakan sebagian unsur dari sistem budaya masyarakat yang berwujud warisan budaya dari nenek moyang.

Tradisi tersebut diwariskan oleh nenek moyang untuk diikuti karena dianggap dapat memberikan pedoman hidup bagi mereka yang masih hidup. Tradisi dapat bernilai baik bahkan dianggap tidak dapat diubah atau ditinggalkan.

Terkadang tradisi juga mengandung nilai-nilai religi. Hal ini juga terjadi di Indonesia, di mana ada banyak tradisi yang berkaitan dengan agama. Termasuk dengan tradisi Islam yang ada di berbagai wilayah di Tanah Air.

Ragam Tradisi Islam di Tanah Air

Semuanya mencerminkan kekhasan daerah atau tempat masing-masing. Berikut ini adalah beberapa tradisi Islam di Nusantara yang perlu diketahui:

1. Tradisi Halal Bihalal

Tradisi Islam di nusantara yang pertama adalah halal bihalal. Halal bihalal dilakukan pada Bulan Syawal yang berupa acara saling bermaaf-maafan.

Setelah umat Islam selesai puasa Ramadan sebulan penuh, maka dosa-dosanya telah diampuni oleh Allah SWT. Namun, dosa kepada sesama manusia belum akan diampuni jika belum mendapat kehalalan atau dimaafkan oleh orang tersebut.

Oleh karena itu, tradisi halal bihalal dilakukan dalam rangka saling memaafkan atas dosa dan kesalahan yang pernah dilakukan agar kembali kepada fitrah (kesucian).

Tujuan halal bihalal selain saling bermaafan adalah untuk menjalin tali silaturahmi dan mempererat tali persaudaraan. Halal bihalal sebagai sebuah tradisi Islam di nusantara lahir dari sebuah proses sejarah.

Ini dibuat untuk membangun hubungan yang harmonis (silaturahmi) antar umat untuk berkumpul, saling berinteraksi dan saling bertukar informasi.

2. Syawalan

Tradisi Syawalan menjadi tradisi Islam lainnya yang dirayakan oleh masyarakat Jawa yang beragama Islam. Syawalan biasanya dilakukan pada bulan Syawal, yaitu seminggu setelah Idulfitri.

Hal inilah yang menjadi alasan mengapa tradisi ini disebut Syawalan karena diadakan di bulan Syawal. Pada tradisi ini masyarakat akan membuat ketupat sehingga disebut juga sebagai Lebaran Ketupat.

Walau banyak yang membuat ketupat, namun ada juga yang melakukan tukar-menukar ketupat tersebut. Ada pula juga melakukan Syawalan dengan membuat acara berebut ketupat.

Di beberapa daerah, tidak hanya ketupat yang dibuat, tetapi juga lepet dan apem. Biasanya ketupat yang telah dibuat tersebut disusun menjadi gunungan yang dilengkapi dengan aneka buah dan sayur mayur untuk diarak keliling kampung.

3. Tradisi Kupatan (Bakdo Kupat)

Di Pulau Jawa terdapat tradisi Kupatan, yang bahkan sudah berkembang hingga ke daerah-daerah lain. Tradisi membuat kupat ini biasanya dilakukan seminggu setelah hari raya Idulfitri.

Biasanya, masyarakat akan berkumpul di suatu tempat seperti musala dan masjid untuk mengadakan selamatan dengan hidangan yang didominasi kupat (ketupat).

Kupat merupakan makanan yang terbuat dari beras dan dibungkus anyaman (longsong) dari janur kuning atau daun kelapa yang masih muda. Sampai saat ini ketupat menjadi maskot Hari Raya Idulfitri karena sebagai makanan khas Lebaran. Tradisi membuat kupat, yang diprakarsai oleh para Wali, dijadikan sarana untuk syiar agama.

Oleh sebagian besar masyarakat, kupat juga menjadi singkatan atau di-jarwo dhosok-kan menjadi rangkaian kata yang sesuai dengan momennya yaitu Lebaran. Kupat adalah singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan menjadi simbol untuk saling memaafkan. Membuat makanan ini menjadi tradisi Islam di nusantara.

4. Grebeg

Grebeg menjadi salah satu tradisi yang diadakan hingga tiga kali dalam setahun di Yogyakarta. Biasanya Grebeg dilakukan untuk memperingati suatu peristiwa tertentu.

Tradisi Grebeg ini biasanya diadakan untuk memperingati Idulfitri, Iduladha, dan Maulid Nabi. Untuk Grebeg Syawal biasanya dilakukan pada tanggal 1 Syawal. Lalu Grebeg Besar diadakan pada tanggal 10 bulan Dzulhijah untuk merayakan Iduladha.

Sementara Grebeg untuk memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad saw. Atau Grebeg Maulud diperingati  pada tanggal 12 Rabiulawal. Setiap tradisi Grebeg diawali dengan perangkat gamelan sekaten milik Keraton Yogyakarta.

Selain itu akan ada beberapa gunungan yang berisi makanan. Nantinya gunungan tersebut akan dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah.

5. Seaji Rewanda

Seaji Rewanda juga termasuk dalam tradisi Islam di nusantara. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang diberikan oleh Allah SWT. Serta, sebagai mengenang napak tilas perjuangan Sunan Kalijaga untuk membangun Masjid Demak.

Tradisi bulan Syawal di Indonesia ini biasanya diadakan pada hari ketiga setelah Idulfitri. Warga akan membawa gunungan yang berisi sego kethek (nasi monyet), buah-buahan, hasil bumi, lepet, dan ketupat dari Kampung Kandri ke Goa Kreo.

Replika kayu jati tiang Masjid Demak juga akan diarak dalam acara ini. Ratusan penari dan pemusik tradisional pun akan memeriahkan acara.

6. Syawalan Pekalongan

Berbeda dengan yang daerah lain yang menyediakan gunungan hasil bumi, daerah Pekalongan justru menghadirkan lopis raksasa. Tradisi bernama Syawalan ini dilakukan di daerah Krapyak.

Alasan dipilihnya lopis adalah karena makanan berbahan beras ketan ini dapat menjadi simbol persatuan yang erat. Nantinya, lopis tersebut akan dipotong-potong untuk kemudian dibagikan ke seluruh warga Pekalongan.

7. Tahlilan

Tradisi Islam di Nusantara berikutnya adalah tahlilan. Tahlilan merupakan tradisi yang bertujuan untuk menyatakan simpati dan empati kepada keluarga yang ditimpa musibah, seperti kematian.

Biasanya tahlilan dilakukan dengan mengadakan pengajian bersama banyak orang. Pada tahlilan sejumlah doa dibacakan bersama-sama dalam hari-hari tertentu setelah kematian seseorang. Hal ini bermaksud untuk mendoakan seseorang yang telah meninggal tersebut.

Umumnya tahlilan dilakukan pada malam pertama setelah seseorang meninggal dunia hingga hari ketujuh. Selain itu, tahlilan akan kembali dilakukan pada hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 setelah kematian.

Selama tahlilan akan ada pembacaan doa dan ayat-ayat Al-Qur’an untuk memohon ampun dan rahmat dari Allah Swt. Ada juga yang membacakan selawat dan zikir untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Author: pangeranbertopeng