Realita Islam: Kematian Dan Kehidupan

kematian-dalam-islam

Berita Islam – Kali ini saya mau membahas tentang realita kehidupan dalam Islam yang saya pelajari selama kemarin saya pergi ke Madinah, Saudi Arabia. Seminggu lebih saya stay disana, merenung, melihat kehidupan dari berbagai sisi.

Waktu itu saya di dalam pesawat menuju Madinah. Saya sebenarnya suka sekali dengan pemandangan yang bisa saya lihat dari ketinggian pesawat. Rasanya dunia itu kecil sekali bila dilihat dari atas.

Kalau kamu perhatikan, dari jauh memang dunia terlihat kecil dan… apa kesan kalian ketika melihat sesuatu yang kecil? Nggak signifikan. Namun, saat pesawat sudah mulai turun dari ketinggian, kita sadar bahwa dunia itu besar dan juga… signifikan.

Kita berpikir balik… Mungkin beberapa dari kamu merasa bahwa kamu merasa kurang. Rumah yang kurang besar, mobil yang kurang mewah, pendapatan yang kurang banyak…

Mudah sekali loh kita terjebak dalam rutinitas yang sama setiap hari dimana kita berpikir bahwa ini adalah putaran kehidupan kita yang tidak akan pernah ada hentinya. Setiap pagi kita bangun, mandi, sarapan, pergi bekerja, pulang, istirahat… dan pada hari Jumat, kita ke mesjid untuk berdoa dan mendengar dakwah.

Rutinitas yang itu-itu saja.

Butuh banyak energi bagi saya untuk stop melakukan rutinitas saya dan bercermin. Melakukan instropeksi diri, melihat kehidupan saya sendiri. Apa yang sedang terjadi dalam hidup saya, ingin dibawa kemana hidup saya. Karena memang saya lah pemegang kendali kehidupan saya sendiri. Saya yang menentukan arah, tentu saja didorong dengan doa kepada Allah SWT agar tetap membimbing jalan saya di tempat yang benar.

Baca Juga: 15 Muslim Di Bunuh Di Thailand Selatan

Manusia terkadang hanya bisa melihat dalam jangka pendek saja. Kenapa saya bilang begitu? Karena setiap kali saya bertanya tentang rencana mereka ke depannya, mereka pasti menjawab tentang pendidikan, karir, keluarga, anak-anak, sampai pensiun.

Terkadang saya berpikir kenapa kita nggak merencanakan sesuatu yang sudah pasti akan terjadi sih? Contohnya, kematian. Jawabannya mudah: karena kita takut dengan sesuatu yang tidak kita ketahui dan kita sudah nyaman dengan sesuatu yang sudah kita ketahui.

Namun, realitanya? Kita nggak bisa kabur dari kenyataan itu. Kematian hanyalah masalah waktu saja.

Al-Qur’an bertanya: “Jadi ke mana kamu akan pergi?” (Qur’an 81:26).

Saya sering sekali membaca artikel dan buku-buku tentang kehidupan. Beberapa artikel yang ditulis oleh orang-orang yang sedang menunggu ajalnya. Apa yang saya perhatikan? Mereka masih berpikir tentang dunia ini. Garis besarnya, kebanyakan pesan mereka adalah “hargai waktu yang tersisa”.

Tapi, bagaimana dengan sesuatu yang akan datang? Bagaimana dengan kehidupan setelah kematian? Akhirat? Apakah ada sesuatu di luar dunia ini?

Merefleksikan kematian kita seharusnya bisa menjadikan kita orang yang lebih baik lagi selagi kita masih hidup di dunia ini. Juga, mendekatkan diri dnegan Allah Maha Pencipta.

Saya selalu menanamkan di kepala saya bahwa kehidupan ini tidak abadi. Saya bisa mati kapan saja Allah ingin mencabut nyawa saya. Ini membantu saya untuk mengabaikan hal-hal nggak penting dan saya menjadi lebih fokus pada gambaran kehidupan yang lebih besar.

Memang saya tidak memungkiri bahwa kematian itu mengerikan. Tapi, kita harus selalu ingat bahwa Allah itu cinta. Allah mencintai hamba-hamba-Nya bahkan sebelum kita lahir. Kematian adalah proses yang natural dimana semua manusia harus lalui sebelum manusia memasuki alam akhirat.

Menurut saya, bila orang sudah mempersiapkan kematian, akhirat merupakan tempat tinggal yang jauh lebih baik untuk kita. Kematian adalah bentuk kelahiran ke akhirat, transisi ke tempat yang lebih indah. Tidak ada penyakit, tidak ada stress, tidak ada kekhawatiran atau kesulitan.

Dunia adalah tempat dimana kita menanam benih, dan akhirat merupakan tempat dimana kita menuai yang kita tanam.

Jangan pernah putus asa atau takut ketika kamu berpikir tentang kematian. Jadikan ini tujuan akhir hidup kamu yang menghubungkan kamu dengan Allah SWT.

Author: sarasvati