Sejarah dan Hikmah Pemindahan Arah Kiblat

Berita Islam – Arah kiblat adalah salah satu hal yang paling penting dalam dunia Islam, karena kita diperintahkan untuk salat kepada-Nya dengan menghadap ke arah kiblat. Mulanya, arah kiblat umat muslim bukanlah Masjidil Haram. Kiblat, atau arah salat, adalah tempat yang dihadapkan oleh umat Islam di seluruh dunia ketika beribadah, dengan harapan untuk mendapatkan berkah dan keridhaan Allah SWT. Perintah untuk menghadapkan wajah ke arah Ka’bah saat salat tercantum dalam firman Allah.

Ayat tersebut diturunkan ketika Nabi Muhammad SAW sedang melaksanakan salat Dzuhur di Masjid Bani Salamah, dengan menghadap ke arah Masjidil Aqsa. Sejak saat itu, posisi kiblat berubah dari Masjidil Aqsa menjadi Masjidil Haram pada bulan Rajab tahun 2 Hijriah atau Januari 624 Masehi.

Setelah memperoleh perintah perubahan kiblat, seketika Baginda Nabi dan para jamaah shalat menghadap ke Ka’bah. Namun, berdasarkan riwayat lain kiblat baru di Masjid Nabawi baru diterapkan saat ashar.

Sejarah Pemindahan Arah Kiblat

Peristiwa ini bermula saat Baginda Nabi melakukan hijrah ke Madinah. Saat tinggal di kota tersebut, beliau shalat dengan menghadap ke Baitul Maqdis. Hal ini terjadi selama sekitar 16 atau 17 bulan. Sejak awal mendapat perintah shalat, Baginda Nabi sebenarnya juga sudah menjadikan Baitul Maqdis sebagai kiblat. Namun, ketika tinggal di Makkah, beliau tidak pernah membelakangi Ka’bah ketika shalat.

Jadi, beliau shalat menghadap Ka’bah dan Masjidil Aqsa sekaligus. Sementara itu, posisi kota Madinah menyulitkan beliau untuk bisa shalat menghadap kiblat pertama umat Islam tanpa membelakangi Ka’bah. Selain itu, Baitul Maqdis juga merupakan arah kiblat ahlul kitab atau kaum Yahudi dan Nasrani yang tinggal di Madinah. Dua faktor ini membuat Rasulullah merasa resah.

Keresahan ini diperparah oleh konflik antara umat Islam dengan Yahudi maupun Nasrani. Mereka menganggap Islam sama seperti agama mereka karena arah kiblatnya sama. Mereka juga menyebarkan kabar miring tentang Islam dan membuat orang-orang ragu untuk memeluk Islam. Selain itu, kaum Nasrani dan Yahudi juga mengajak Rasulullah untuk bergabung dengan mereka. 

Baginda Nabi kemudian mengutarakan keresahan ini kepada malaikat Jibril. Namun, Jibril tidak bisa membantu dan hanya menyarankan beliau untuk memohon pertolongan Allah.

Rasulullah pun kemudian memohon dan menunggu wahyu yang memerintahkan pemindahan arah kiblat. Ketika menunggu, beliau sering menengadahkan wajah ke langit. Sehingga, ayat yang memerintahkan perpindahan arah kiblat pun dimulai dengan frasa “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit …’

Dengan diturunkannya QS Al Baqarah:144, arah kiblat umat Islam pun diubah ke Ka’bah atay Masjidil Haram. Namun, perubahan ini tidak menyurutkan konflik antara umat Islam dengan kaum lainnya. Akan tetapi, yang lebih utama adalah mengimani Allah, hari akhir, malaikat, kitab Allah, dan para nabi serta melaksanakan shalat, berzakat, bersedekah, dan bersabar dalam kesempitan maupun penderitaan. 

Hikmah Pemindahan Arah Kiblat

Apa hikmah yang terdapat dibalik pemindahan arah kiblat? Terdapat beberapa hikmah yang bisa dipetik dari peristiwa berubahnya arah kiblat umat Islam.

Hikmah yang pertama adalah memantapkan keimanan umat Islam. Perubahan arah kiblat merupakan ujian untuk keimanan dan ketakwaan mereka di tengah hinaan yang dilontarkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

Perubahan kiblat ini ternyata tidak membuat umat Islam pada masa itu meragukan Rasulullah. Mereka tetap taat kepada Baginda Nabi dan keimanan mereka semakin kokoh. Hikmah ke-2 adalah menyempurnakan syariat Islam. Berkat dirubahnya arah kiblat, agama Islam tidak lagi dihujat oleh kaum ahlul kitab sebagai agama yang sama meniru atau sama seperti agama mereka. 

Sementara itu, hikmah ke-3 adalah penyempurnaan nikmat Allah kepada umat Islam, terutama bangsa Arab. Dengan dijadikannya Ka’bah sebagai kiblat, umat Islam memiliki kiblat sendiri. Pemindahan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram atau Ka’bah adalah peristiwa yang sangat istimewa dalam sejarah agama Islam. Perpindahan ini mampu mengatasi keresahan Rasulullah.

Author: pangeranbertopeng