Berita Islam – Hari ini (20/07/2021) kita sebagai umat muslim merayakan hari raya Idul Adha. Namun sayangnya pada tahun ini kita tidak bisa merayakan hari Raya Idul Adha seperti tahun-tahun sebelumnya karena kita masih perlu menjaga jarak demi pandemi Covid-19 berakhir di Indonesia.
Jika kita melihat rutinitas perayaan hari raya Idul Adha, pasti selalu disertai dengan penyembelihan hewan kurban bagi orang yang mampu. Sapi, kambing, domba, dan kerbau menjadi jenis hewan yang dipilih untuk menjadi hewan kurban di hari raya Idul Adha. Selain dikenal dengan penyembelihan hewan kurban, hari raya Idul Adha juga dikenal sebagai Lebaran Haji. Lalu kenapa sih hari raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban? Inilah alasannya :
Asal mula penyembelihan hewan kurban dimulai dari Ibrahim
Penyembelihan hewan kurban pada hari raya Idul Adha sesungguhnya dimulai dari Ibrahim. Pada saat itu di hari raya Idul Adha, Allah meminta umat muslim untuk melaksanakan ibadah kurban bagi yang mampu menunaikannya, hal ini tertulis pada Al-Qur’an (Al-Kautsar ayat 1-2) yang berbunyi :
اِنَّآ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَۗفَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْۗ
innā a’ṭainākal-kauṡar fa ṣalli lirabbika wan-ḥar
artinya :
Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
Seperti yang kita ketahui, Nabi Ibrahim merupakan salah satu Nabi yang sulit memiliki anak, oleh sebab itu Nabi Ibrahim terus berdoa dan meminta kepada Allah SWT untuk dikaruniai seorang anak. Setelah penantian panjang menanti keturunan, Nabi Ibrahim akhirnya memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama Ismail. Saat Nabi Ismail beranjak usia remaja, Nabi Ibrahim kemudian mendapat Wahyu dari Allah SWT untuk mengorbankan dan menyembelih putra satu-satunya yang ia miliki yakni Nabi Ismail.
Meskipun Nabi Ismail adalah anak satu-satunya yang ia miliki, namun Nabi Ibrahim tetap patuh kepada perintah Allah SWT. Kepatuhan Nabi Ibrahim sendiri tercatat dalam Al-Quran di Surah An Nahl ayat 120. Dalam Surah An Nahl ayat 120, Allah berfirman:
اِنَّ اِبْرٰهِيْمَ كَانَ اُمَّةً قَانِتًا لِّلّٰهِ حَنِيْفًاۗ وَلَمْ يَكُ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَۙ
inna ibrāhīma kāna ummatang qānital lillāhi ḥanīfā, wa lam yaku minal-musyrikīn
artinya :
Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah),
Selain itu, di Surah As Saffat ayat 102 juga menceritakan bagaimana Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah SWT kepada Nabi Ismail. Surah As Saffat ayat 102 sendiri berisi :
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
fa lammā balaga ma’ahus-sa’ya qāla yā bunayya innī arā fil-manāmi annī ażbaḥuka fanẓur māżā tarā, qāla yā abatif’al mā tu`maru satajidunī in syā`allāhu minaṣ-ṣābirīn
artinya :
Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”
Melihat kepatuhan Nabi Ibrahim yang rela menyerahkan anak satu-satunya yang ia miliki untuk di kurban, Allah SWT kemudian memerintah Nabi Ibrahim untuk mengganti kurban menjadi seekor domba.
Itulah alasannya kenapa hari raya Idul Adha kita melakukan penyembelihan hewan kurban. Selain itu, dengan memberikan hewan kurban, kita juga melakukan amalan baik karena kita memberikan rejeki bagi orang sengsara dan fakir miskin, sebagaimana yang tertulis pada Surah Al-Hajj ayat 28 yang berisi :
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ
liyasy-hadụ manāfi’a lahum wa yażkurusmallāhi fī ayyāmim ma’lụmātin ‘alā mā razaqahum mim bahīmatil-an’ām, fa kulụ min-hā wa aṭ’imul-bā`isal-faqīr
artinya :
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir.