Sudahkah Kamu Menyelesaikan Hutang Puasamu Ramadhan Lalu? Inilah Serba Serbi Cara Membayar Hutang Puasa Dan Hukumnya

 

Berita Islam – Kini kita tinggal menghitung hari sebelum memasuki bulan Ramadhan 1442 H yang akan dimulai pada bulan April mendatang. Ramadhan biasanya lekat dengan hari raya Idul Firti, Shalat Tarawih, dan tentu saja puasa Ramadhan yang harus dijalankan oleh seorang muslim dan muslimah selama 30 hari penuh sebelum akhirnya bertemu dengan hari yang Fitri.

Puasa bulan Ramadhan wajib hukumnya untuk dijalankan umat muslim yang mampu atau sudah baligh tanpa satupun bolong puasa. Kewajiban menjalankan puasa sendiri merupakan salah satu rukun Islam selain membaca syahadat dan menunaikan Shalat. Hukum melaksanakan puasa Ramadhan disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 183 yang berbunyi:

 

ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 

“Yā ayyuhallażīna āmanụ kutiba ‘alaikumuṣ-ṣiyāmu kamā kutiba ‘alallażīna ming qablikum la’allakum tattaqụn”

Yang berarti: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 183).

Melalui puasa Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah SWT ini umat islam dapat meningkatkan kesucian jiwa, keikhlasan, ketulusan, hingga sebagai pengawasan diri dan media meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

 

 

Lalu, bagaimana jika seorang tidak boleh atau tidak bisa menjalankan puasa Ramadhan?

Dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 184-185 telah disebutkan golongan-golongan orang yang boleh meninggalkan puasa Ramadhan ini dan juga disebutkan bagaimana orang yang tidak dapat melaksanakan puasa Ramadhan harus mengganti puasa yang mereka tinggalkan.

Golongan orang-orang tersebut seperti wanita haid, wanita yang masih dalam masa nifas, wanita hamil, orang tua, orang sakit atau seseorang yang harus menempuh perjalanan jauh (perjalanan yang menempuh jarak lebih dari 90 km). Dalam ayat 184 yang berbunyi:

 

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

 

“ayyāmam ma’dụdāt, fa mang kāna mingkum marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, wa ‘alallażīna yuṭīqụnahụ fidyatun ṭa’āmu miskīn, fa man taṭawwa’a khairan fa huwa khairul lah, wa an taṣụmụ khairul lakum ing kuntum ta’lamụn”

 

Yang artinya: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberikan makan bagi seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengethaui.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 184).

 

 

Hukum wajib menjalankan puasa dan mengganti puasa juga kembali ditegaskan serta disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 185 yang berbunyi:

 

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۗ وَمَنْ كَانَ مَرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ يُرِيْدُ اللّٰهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِكُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

 

“syahru ramaḍānallażī unzila fīhil-qur`ānu hudal lin-nāsi wa bayyinātim minal-hudā wal-furqān, fa man syahida mingkumusy-syahra falyaṣum-h, wa mang kāna marīḍan au ‘alā safarin fa ‘iddatum min ayyāmin ukhar, yurīdullāhu bikumul-yusra wa lā yurīdu bikumul-‘usra wa litukmilul-‘iddata wa litukabbirullāha ‘alā mā hadākum wa la’allakum tasykurụn”

 

Yang berarti: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah, Ayat 185).

Dari ayat-ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat 2 cara untuk membayar hutang puasa, yang pertama adalah mengganti nya dengan puasa di hari lain; atau yang kedua adalah membayar Fidyah dengan cara memberi makan fakir miskin atau membayarkan sedekah ke masjid. Akan tetapi lebih jelas disebutkan bahwa wanita-wanita yang haid dan orang yang sedang dalam perjalanan jauh yang tidak dapat menjalankan puasa harus mengganti hutang puasanya dengan puasa di hari lain.

2 golongan tersebut dinilai masih mampu untuk mengganti hutang puasa dengan puasa di hari lain dan bukan dengan Fidyah. Sedangkan Fidyah dilakukan oleh mereka yang memang tidak mampu untuk menjalakan ibadah puasa bulan Ramadhan seperti orang tua, orang sakit parah ataupun ibu hamil yang harus mencukupi kebutuhan janin yang ada dalam rahimnya.

Barang siapa yang tidak mengganti hutang puasanya maka ia akan mendapatkan dosa, dan bagi mereka yang tidak dapat menyelesaikan hutang puasanya dari mulai bulan syawal hingga bulan ramadhan yang akan datang maka ia harus mengganti hutang puasa di tahun selanjutnya sebanyak 2 kali lipat dari hutang puasa yang belum terbayar/belum diganti.

Jadi, sudah selesaikah kamu mengganti hutang puasamu?

Author: pangeranbertopeng