Berita Islam – Ibadah haji merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial, setidaknya satu kali seumur hidup. Salah satu cara bahwa memang bersungguh-sungguh untuk melaksanakan ibadah haji adalah dengan meluruskan niat, dan mempelajari tata cara ibadah haji yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Seperti sabda Nabi Muhammad SAW:
(( خُذُوْا عَنِّي مَنَاسِكَكُمْ ))
Artinya: “Ambillah oleh kalian dariku tata cara manasik haji kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Terdapat beberapa tahapan dan rukun yang harus dilakukan secara tertib dan teratur ketika beribadah haji. Berikut adalah urutan pelaksanaan ibadah haji yang penting untuk diketahui.
Urutan Haji dari Awal sampai Akhir Lengkap
1. Memulai Ihram dari Miqat yang Telah Ditentukan
Miqat adalah batas waktu dan tempat yang telah ditentukan untuk memulai ibadah haji dan umrah. Terdapat dua jenis miqat, yaitu miqat zamani yang merupakan batas waktu, dan miqat makani yang merupakan batas tempat.
Batas waktu untuk melaksanakan ibadah haji adalah pada bulan Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Sedangkan batas tempat untuk memulai ibadah haji berbeda-beda tergantung dari arah kedatangan jamaah haji.
Setiap jamaah harus memulai ihram dari miqat yang telah ditentukan sesuai dengan rute perjalanan mereka. Tahapan pelaksanaan ihram adalah sebagai berikut:
-
- Melakukan mandi sunah yang merupakan pembersihan diri sebelum memasuki keadaan ihram.
- Melaksanakan wudu untuk menyucikan diri sebelum mengenakan pakaian ihram.
- Mengenakan pakaian ihram yang terdiri dari dua helai kain tak berjahit bagi laki-laki, dan pakaian yang sopan bagi perempuan.
- Menunaikan salat sunah ihram dua rakaat sebagai persiapan sebelum memulai perjalanan haji.
- Mengucapkan niat haji sebagai deklarasi resmi memulai ibadah haji.
- Berangkat menuju Arafah dengan membaca talbiyah sebagai bentuk dzikir dan pengagungan kepada Allah.
2. Wukuf di Arafah
Muhammad Bagir dalam buku Fiqih Praktis I menjelaskan para ulama setuju bila wukuf di Arafah termasuk dalam rukun haji yang harus dikerjakan, dan tidak boleh diganti dengan dam (sehingga jika melewatinya, haji menjadi tidak sah).
Rasulullah SAW bersabda, “Haji itu adalah Arafah (Haji yang dianggap sah untuk mereka yang berkesempatan berdiam meski pada malam nahar (Malam menjelang 10 Zulhijah, sebelum fajar maka ia telah mendapatinya (Hajinya menjadi sah).”
3. Mabit di Muzdalifah
Selanjutnya, setelah wukuf di Arafah, jamaah bergerak menuju Muzdalifah untuk mabit (bermalam). Di Muzdalifah, jamaah mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melontar jamrah di Mina.
Mabit dilakukan hingga menjelang subuh, di mana jamaah dianjurkan untuk istirahat sambil memperbanyak doa dan zikir.
4. Melempar jamrah aqabah
Kemudian, pada tanggal 10 Dzulhijjah, jamaah bergerak menuju Mina untuk melaksanakan ritual melontar jamrah aqabah, yaitu ritual melempar tujuh batu kerikil ke arah salah satu dari tiga jamrah di Mina.
Melontar jamrah merupakan simbol penolakan terhadap godaan setan, mengingatkan pada kisah Nabi Ibrahim yang melawan bujuk rayu setan.
5. Tahalul
Selanjutnya, Tahalul adalah melepaskan diri dari ihram setelah melaksanakan amalan-amalan haji. Tahalul dilakukan dalam dua tahap.
Tahap pertama setelah melontar jumrah aqabah dengan mencukur minimal tiga helai rambut. Setelah itu, jamaah haji boleh melakukan semua hal yang dilarang saat ihram kecuali hubungan suami istri.
Setelah tahalul pertama, jamaah haji yang akan tawaf ifadah menuju Mekah. Beberapa hal yang dilakukan di Mekah antara lain:
-
- Masuk Masjidil Haram lewat pintu Babussalam
- Tawaf ifadah sambil membaca talbiyah
- Setelah tawaf, disunahkan mencium Hajar Aswad
- Salat sunah dua rakaat di dekat makam Ibrahim
- Berdoa di Multazam
- Salat sunah dua rakaat di Hijir Ismail
- Sa’I antara Safa dan Marwah sebanyak tujuh kali
Tahap kedua tahalul dilakukan dengan menggunting minimal tiga helai rambut. Setelah itu, jamaah haji diperbolehkan melakukan semua yang dilarang saat ihram, termasuk hubungan suami istri.
6. Mabit di Mina
Jamaah kemudian kembali ke Mina untuk mabit selama beberapa hari. Di Mina, jamaah melontarkan ketiga jamrah, yaitu jamrah ula, wusta, dan aqabah, masing-masing dengan tujuh lemparan batu kerikil.
Ritual melontar itu dilakukan selama tiga hari berturut-turut pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
7. Thawaf wada
Tawaf Wada merupakan momen yang penuh makna bagi jamaah haji, di mana mereka melakukan tawaf terakhir sebelum meninggalkan Mekah.
Setelah menyelesaikan semua ibadah haji, jamaah mempersiapkan diri dengan wudhu’ dan bergerak menuju Masjid al-Haram.
Di sana, di hadapan Ka’bah yang suci, jamaah membaca niat untuk melakukan Tawaf Wada. Dengan penuh khusyuk, jamaah mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran, memulai dan mengakhiri setiap putaran serta berdoa dan berzikir.
Setelah selesai Tawaf Wada, jamaah salat sunnah dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim jika memungkinkan, sebagai bagian dari sunnah setelah tawaf.
Momen ini tidak hanya menjadi perpisahan fisik dengan Ka’bah, tetapi juga sebagai penghormatan terakhir sebelum kembali ke tanah air, penuh haru dan rasa syukur atas kesempatan ibadah yang telah diberikan.
Itulah urutan haji dari awal sampai akhir lengkap. Dengan memahami dan mematuhi urutan pelaksanaan ibadah haji, jamaah haji dapat menjalankan ibadah dengan baik dan mendapatkan keberkahan serta pengampunan dosa dari Allah Swt.