Berita Islam – Perayaan Idul Adha merupakan tradisi tahunan oleh umat Islam. Idul Adha memiliki makna dan sejarah penting dalam hari raya kurban. Penyembelihan hewan kurban memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah diberikan.
Untuk memahami makna hari raya ini, berikut penjelasannya, seperti dirangkum dari berbagai sumber.
Sejarah Hari Raya Kurban
Selain berkaitan dengan hewan sembelihan, kata Adha pada hari raya ini juga berkaitan dengan sejarahnya loh. Sejarah hari raya Idul Adha bisa ditelusuri hingga zaman Nabi Ibrahim AS dan anaknya, Nabi Ismail AS.
Sejarah penyembelihan hewan kurban ini berawal ketika Nabi Ibrahim AS mendapatkan ilham saat tidur bahwasanya beliau harus menyembelih Nabi Ismail AS pada tanggal 8 Dzulhijjah (hari tarwiyah).
Kisah mengenai mimpi Nabi Ibrahim AS dan dialog beliau dengan putranya tersebut tercantum dalam surat As-shaffat ayat 102 yang berbunyi:
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim”
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.
Dengan persetujuan tersebut, maka tekad Nabi Ibrahim a.s telah bulat untuk mengorbankan putranya. Namun, atas kehendak Allah S.W.T, saat proses pengorbanan berlangsung, tubuh Nabi Ismail AS diselamatkan dan diganti dengan kambing gibas.
Cerita mengenai penggantian ini tertuang dalam al quran surat as-shaffat ayat 104-107 yang berbunyi:
“Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! (104) Sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”
Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik (105). Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata (106). Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (107).
Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s adalah nenek moyang bangsa Arab. Oleh sebab itu, tradisi penyembelihan hewan kurban ini dipraktikan turun menurun hingga pada zaman Nabi Muhammad S.A.W meskipun hanya sekadar fisiknya saja (tanpa hakikat Idul Adha itu sendiri).
Keistimewaan Idul Adha
Peristiwa besar dari kesediaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail menjadi salah satu keistimewaan Idul Adha. Sejumlah keistimewaan lainnya:
- Mencurahkan cinta kepada Allah SWT
- Mengorbankan sifat-sifat egois seperti rakus dan serakah
- Berbagi rezeki dengan mereka yang membutuhkan
- Hewan kurban menjadi saksi amal ibadah di hari kiamat
- Orang berkurban akan dibalas dengan kebaikan dan pahala yang berlimpah
Tujuan perayaan Idul Adha
Setidaknya terdapat beberapa tujuan dari perayaan Idul Adha bagi umat Islam. Tujuan ini mencakup dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan. Berikut tujuan Idul Adha.
1. Memperingati peristiwa kurban
Perintah untuk menjalankan ibadah kurban pertama kali turun kepada Nabi Ibrahim As sebagai ujian ketakwaan dan bentuk keikhlasan beliau kepada Allah Swt.
Alkisah, Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan untuk menyembelih putranya tercinta, Ismail. Meski berat, Nabi Ibrahim memantapkan hatinya untuk melaksanakan perintah tersebut.
Sang anak pun setuju untuk mengorbankan dirinya sebagai wujud keteguhan iman. Namun, saat pisau hendak dihujamkan, Allah Swt mengganti Ismail dengan seekor domba jantan.
Peristiwa inilah yang menjadi dasar pelaksanaan ibadah kurban sampai sekarang, yakni sebagai bentuk pengingat akan ketaatan dan keikhlasan seorang hamba kepada Allah Swt.
2. Merayakan selesainya ibadah Haji
Tujuan perayaan Idul Adha berikutnya adalah untuk merayakan usainya rangkaian ibadah haji di tahun tersebut.
Dikutip dari laman NU Online, mulanya Idul Adha dirayakan oleh kaum Muslimin yang selesai melaksanakan ibadah haji. Kemudian di hari itu, jemaah haji disunnahkan menyembelih hewan kurban untuk dibagikan kepada para fakir miskin, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah.
Umat Islam yang menunaikan haji diwajibkan untuk melakukan wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah. Sementara Hari Raya Idul Adha jatuh pada 10 Zulhijah. Oleh karena itu, bisa dibilang Idul Adha menjadi penanda berakhirnya rangkaian ibadah haji di tahun tersebut.
3. Menumbuhkan sifat dermawan
Pada waktu Idul Adha, umat Islam yang mampu secara ekonomi diperintahkan untuk mengurbankan hewan kurban seperti kambing, domba, atau sapi.
Daging dari hewan kurban yang telah disembelih biasanya akan dibagikan kepada fakir miskin, tetangga, dan orang di sekitarnya.
Pembagian ini merupakan salah satu esensi utama dalam perayaan Idul Adha untuk menumbuhkan sifat dermawan dan mau berkorban demi kesejahteraan orang lain.
Lalu, dengan berbagi kepada orang sekitar, umat Islam diingatkan untuk selalu bersyukur atas rezeki dan kesehatan yang mereka miliki.
Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman Allah Surat Al Hajj Ayat 28.
لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَۖ ٢٨
Arab-latin: liyasy-hadû manâfi’a lahum wa yadzkurusmallâhi fî ayyâmim ma’lûmâtin ‘alâ mâ razaqahum mim bahîmatil-an’âm, fa kulû min-hâ wa ath’imul-bâ’isal-faqîr
Artinya: (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang telah dianugerahkan-Nya kepada mereka berupa binatang ternak. Makanlah sebagian darinya dan (sebagian lainnya) berilah makan orang yang sengsara lagi fakir.
4. Memperkuat kebersamaan dan solidaritas
Perayaan Idul Adha melibatkan banyak aktivitas bergotong royong, mulai dari proses penyembelihan hingga pembagian daging kurban. Hal ini dapat menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan dan silaturahmi antarsesama muslim.
5. Mengurangi kesenjangan sosial
Ibadah kurban merupakan salah satu upaya untuk mengurangi kesenjangan sosial yang ada dalam masyarakat. Sebab, daging adalah makanan ‘mewah’ yang jarang dikonsumsi oleh keluarga miskin.
Dengan mendapat daging kurban, mereka berkesempatan untuk menikmati makanan yang sulit dinikmati sehari-hari.