Umat Muslim Tidak Boleh Punya 3 Sifat Buruk Ini Lho!

Berita Islam – Sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan, tentunya kita setidaknya pernah sekali dalam seumur hidup memiliki sifat buruk penyakit hati. Sifat buruk ini bisa muncul dari berbagai faktor, seperti salah satu contohnya adalah dari tekanan masyarakat dan lingkungan sekitar. Lalu sebenarnya, apa saja sih sifat-sifat buruk yang harus dihindari umat muslim agar terhindar dari dosa? Berikut ini merupakan 3 sifat buruk yang tidak boleh dilakukan oleh umat muslim beserta ayat Al-Quran tentang larangan tersebut, yakni :

 

1. Iri hati dan dengki

Dalam surat An-Nisa ayat 32, Allah SWT berfirman :
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْا ۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَ ۗوَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا
wa lā tatamannau mā faḍḍalallāhu bihī ba’ḍakum ‘alā ba’ḍ, lir-rijāli naṣībum mimmaktasabụ, wa lin-nisā`i naṣībum mimmaktasabn, was`alullāha min faḍlih, innallāha kāna bikulli syai`in ‘alīmā
artinya :

Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Sifat buruk pertama yang tidak boleh dimiliki oleh umat muslim adalah iri hati dan dengki. Sebagai manusia yang hidup ditengah-tengah masyarakat, tentunya sifat ini sedikit sulit untuk dikendalikan. Namun, meskipun sulit kita sebagai umat muslim tidak boleh iri hati dan dengki terhadap orang lain. Iri hati dan dengki akan membuat perspektif baru di diri kita terhadap orang lain, dan juga akan membuat kita selalu tidak puas dengan apa yang kita miliki. Sifat iri dengki tentunya akan menimbulkan perbuatan dosa dan juga membuat kita tidak merasa bahagia dengan hidup kita sendiri. 

2. Ujub/Merasa diri sendiri benar dan selalu di atas

Dalam surat Ali-Imran ayat 180, Allah SWT berfirman :
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ بِمَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖ هُوَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۗ سَيُطَوَّقُوْنَ مَا بَخِلُوْا بِهٖ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ وَلِلّٰهِ مِيْرَاثُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ
wa lā yaḥsabannallażīna yabkhalụna bimā ātāhumullāhu min faḍlihī huwa khairal lahum, bal huwa syarrul lahum, sayuṭawwaqụna mā bakhilụ bihī yaumal-qiyāmah, wa lillāhi mīrāṡus-samāwāti wal-arḍ, wallāhu bimā ta’malụna khabīr
artinya :

Dan jangan sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalungkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.

Penyakit hati kedua yang tidak boleh dimiliki oleh umat muslim adalah ujub. Ujub sendiri merupakan perilaku manusia yang merasa bahwa dia selalu merasa dirinya hebat dan merasa lebih diatas orang lain. Sifat ini tentunya buruk, karena dengan sombong akan dirinya sendiri dan merasa diri hebat, maka manusia akan lebih mudah untuk merendahkan Allah SWT. Dengan sifat ujub ini, manusia bisa merasa tidak perlu Allah SWT karena merasa semua masalah bisa diatasi sendiri.

3. Riya/Sombong

Dalam surat Al-Baqarah ayat 264, Allah SWT berfirman :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلْدًا ۗ لَا يَقْدِرُوْنَ عَلٰى شَيْءٍ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْكٰفِرِيْنَ
yā ayyuhallażīna āmanụ lā tubṭilụ ṣadaqātikum bil-manni wal-ażā kallażī yunfiqu mālahụ ri`ā`an-nāsi wa lā yu`minu billāhi wal-yaumil-ākhir, fa maṡaluhụ kamaṡali ṣafwānin ‘alaihi turābun fa aṣābahụ wābilun fa tarakahụ ṣaldā, lā yaqdirụna ‘alā syai`im mimmā kasabụ, wallāhu lā yahdil-qaumal-kāfirīn
artinya :

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena ria (pamer) kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari akhir. Perumpamaannya (orang itu) seperti batu yang licin yang di atasnya ada debu, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, maka tinggallah batu itu licin lagi. Mereka tidak memperoleh sesuatu apa pun dari apa yang mereka kerjakan. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.

Jika sebelumnya kita membahas tentang kesombongan akan kehebatan diri sendiri, sifat selanjutnya yang akan kita bahas juga termasuk ke dalam kategori sombong namun dalam segi harta kekayaan, sifat tersebut yakni riya. Sifat riya tentunya tidak boleh dimiliki oleh umat muslim, karena sifat ini akan membuat manusia merasa memiliki segalanya dan juga merasa tidak membutuhkan Allah SWT. Selain itu, sifat ini juga tidak baik dilakukan karena memamerkan kekayaan demi pujian dan demi dilihat sebagai orang hebat oleh orang lain.

Author: pangeranbertopeng