Berita Islam – Sebagai manusia biasa, tentunya kita tidak pernah luput dari kesalahan dan juga dosa. Ada banyak perbuatan yang tidak terpuji yang sifatnya berdosa dan wajib dihindari oleh manusia, salah satunya adalah ghibah.
Ghibah sama saja dengan bergosip, yakni sama-sama kegiatan yang membicarakan keburukan orang lain di belakang orang tersebut. Kata ghibah sendiri berasal dari bahasa arab “Ghaabaha Yaghiibu Ghaiban” yang memiliki arti ghaib/tidak hadir, sehingga ghibah memiliki arti ketidakhadiran seseorang dalam suatu pembicaraan.
Lalu apakah umat muslim boleh melakukan ghibah dan membicarakan keburukan orang lain? jawabannya tentu saja tidak, karena ghibah atau bergosip bukanlah suatu perilaku yang terpuji dan bisa menimbulkan fitnah jika terus berkelanjutan.
Lalu bagaimana pandangan Allah SWT terhadap perilaku ghibah/bergossip? Yuk kita simak dibawah ini!
1. Ghibah merupakan perilaku yang dilaknat oleh Allah SWT
Allah SWT dalam Surat An-Nur ayat 19 bersabda bahwa perbuatan ghibah adalah perilaku yang dilaknat oleh Allah SWT. Isi dari Surat An-Nur ayat 19 adalah sebagai berikut :
اِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ اَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِى الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌۙ فِى الدُّنْيَا وَالْاٰخِرَةِۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
innallażīna yuḥibbụna an tasyī’al-fāḥisyatu fillażīna āmanụ lahum ‘ażābun alīmun fid-dun-yā wal-ākhirah, wallāhu ya’lamu wa antum lā ta’lamụn
artinya :
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan yang sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.
2. Gambaran Allah SWT terhadap perilaku ghibah/bergossip
Dalam surat Al-Hujarat ayat 12, Allah menggambarkan ghibah sebagai perilaku yang suka menggunjing orang lain. Isi dari surat Al-Hujarat ayat 12 adalah sebagai berikut :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
yā ayyuhallażīna āmanujtanibụ kaṡīram minaẓ-ẓanni inna ba’ḍaẓ-ẓanni iṡmuw wa lā tajassasụ wa lā yagtab ba’ḍukum ba’ḍā, a yuḥibbu aḥadukum ay ya`kula laḥma akhīhi maitan fa karihtumụh, wattaqullāh, innallāha tawwābur raḥīm
artinya :
Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Selain itu, menurut hadist dari Rasulullah SAW, perilaku ghibah memiliki dosa yang lebih berat daripada dosa zina. Hadits tersebut berbunyi :
“ Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,” (HR At-Thabrani).