Berita Islam – Hati dapat memiliki dua makna, yakni salah satu organ tubuh manusia yang dapat diraba dan dilihat oleh mata manusia. Kedua, hati adalah rohani yang sangat halus dan bersifat rabbani. Tahukah kamu bahwa di dalam agama Islam, terdapat beberapa macam penyakit hati yang perlu kita hindari.
Penyakit Hati dalam Islam
Dalam Islam, penyakit hati adalah gangguan yang ada pada hati dan perasaan seorang muslim. Penyakit hati ini bukan merupakan penyakit yang menyangkut kesehatan secara medis, seperti sakit liver, sirosis, dan sebagainya ya, melainkan penyakit yang sifatnya spiritual atau mental.
Penyakit hati disebut juga dengan “maaridh al-qulub“, merujuk pada berbagai jenis gangguan emosi dan psikologis yang dapat mempengaruhi kesehatan mental dan spiritual seseorang.
Jenis Penyakit Hati dalam Islam
Macam-macam penyakit hati dalam Islam terbagi menjadi 6 jenis yang berbeda. Ciri-ciri penyakit hati beserta penjelasan lengkapnya dapat kamu lihat berikut ini.
-
Hasad
Penyakit hati yang pertama adalah hasad atau iri hati. Hasad disebut juga sebagai dengki, yang merupakan sifat seseorang yang tidak suka jika orang lain mendapatkan kebahagiaan. Hasad merupakan salah satu penyakit hati yang berbahaya karena dapat merusak hubungan sosial dan spiritual seseorang, dan dapat menghalangi kesuksesan dan kebahagiaan hidup.
Dalam Islam, hasad dianggap sebagai tindakan yang dilarang dan dikecam. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa ayat Al-Quran, misalnya dalam surat Al-Falaq ayat 5:
وَمِنۡ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ
Artinya: “Dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”
Penyakit hasad juga disebutkan dalam hadits Rasulullah SAW sebagai berikut:
“Waspadalah terhadap hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala sebagaimana api memakan kayu”. (HR. Abu Dawud).
-
Riya (Pamer)
Riya merupakan salah satu perbuatan tercela dalam Islam. Orang yang melakukan riya umumnya melakukan amal soleh bukan karena Allah SWT. Perilaku ini harus dijauhkan sebab orang yang melakukan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT atas perbuatan amal solehnya.
Allah berfirman dalam Al-Quran QS Al-Baqarah ayat 264:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُبۡطِلُوۡا صَدَقٰتِكُمۡ بِالۡمَنِّ وَالۡاَذٰىۙ كَالَّذِىۡ يُنۡفِقُ مَالَهٗ رِئَآءَ النَّاسِ وَلَا يُؤۡمِنُ بِاللّٰهِ وَالۡيَوۡمِ الۡاٰخِرِؕ فَمَثَلُهٗ كَمَثَلِ صَفۡوَانٍ عَلَيۡهِ تُرَابٌ فَاَصَابَهٗ وَابِلٌ فَتَرَكَهٗ صَلۡدًا ؕ لَا يَقۡدِرُوۡنَ عَلٰى شَىۡءٍ مِّمَّا كَسَبُوۡا ؕ وَاللّٰهُ لَا يَهۡدِى الۡقَوۡمَ الۡـكٰفِرِيۡنَ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
-
Ujub
Ujub dalam Islam adalah sifat atau perilaku yang menunjukkan rasa bangga atau merasa lebih dari orang lain atas amalan atau prestasi yang telah dicapai. Ujub juga masih berkaitan dengan sikap sombong dan merasa diri sendiri lebih baik daripada orang lain.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam juga menyebut ujub dapat membawa pada jurang kebinasaan, yang terdapat dalam hadis berikut:
“Tiga hal yang membawa pada jurang kebinasaan: (1) tamak lagi kikir, (2) mengikuti hawa nafsu (yang selalu mengajak pada kejelekan), dan ujub (takjub pada diri sendiri).” (H.R. Abdur Razaq, hadist hasan).
-
Sum’ah
Sum’ah berasal dari kata sama’a yang artinya adalah memperdengarkan. Maksud dari sum’ah adalah perbuatan memperdengarkan ibadah-ibadah yang telah dilakukan kepada orang lain dengan sengaja untuk memperoleh pujian. Sifat ini mirip-mirip dengan sifat riya’, namun antara riya’ dan sum’ah ada perbedaan. Riya’ berkaitan dengan indra mata, sedangkan sum’ah berkaitan dengan indra telinga.
Rasulullah SAW memperingatkan umat Islam dalam haditsnya:
Artinya: “Siapa yang berlaku sum’ah maka akan diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah dan siapa yang berlaku riya maka akan dibalas dengan riya.” (HR. Bukhari)
Diperlakukan dengan sum’ah oleh Allah maknanya adalah diumumkan aib-aibnya di akhirat di depan umat manusia. Sedangkan dibalas dengan riya, artinya adalah diperlihatkan pahala amalnya, akan tetapi tidak diberi pahala kepadanya.
-
Taqtir
Taqtir bisa juga disebut sebagai pelit. Orang-orang yang bersifat taqtir tidak mau jika sesuatu miliknya dibagi kepada orang lain secara Cuma-Cuma. Padahal pahala sedekah begitu luar biasa. Sifat taqtir masih berkaitan dengan sifat kikir yang juga dilarang oleh Allah SWT.
-
Buruk Sangka
Dalam Islam, sifat berburuk sangka disebut juga dengan su’udzan, yang merupakan sikap di mana seseorang memiliki prasangka buruk terhadap sesuatu tanpa alasan yang jelas atau bukti yang cukup. Dalam Islam, buruk sangka dianggap sebagai salah satu dosa besar yang harus dihindari karena dapat merusak hubungan sosial dan kepercayaan antara sesama manusia.
Allah melarang umat Islam memiliki sifat buruk sangka. Dalam Al-Quran Surat Al-Hujurat ayat 12 Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوا اجۡتَنِبُوۡا كَثِيۡرًا مِّنَ الظَّنِّ اِنَّ بَعۡضَ الظَّنِّ اِثۡمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوۡا وَلَا يَغۡتَبْ بَّعۡضُكُمۡ بَعۡضًا ؕ اَ يُحِبُّ اَحَدُكُمۡ اَنۡ يَّاۡكُلَ لَحۡمَ اَخِيۡهِ مَيۡتًا فَكَرِهۡتُمُوۡهُ ؕ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيۡمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain.”