Berita Islam – Pada era 1950-an, Timur Tengah sempat dihebohkan oleh sosok Abdullah Al Qasemi, tokoh intelektual yang sebelumnya dikenal sebagai pemikir Islam justru berbalik menentang ajaran yang pernah menjadi fokus perhatiannya.
Abdullah Al Qasemi lahir pada tahun 1907 di Buraydah, Arab Saudi. Sejak kecil, ia tumbuh dalam lingkungan yang kental dengan ajaran Islam. Ayahnya secara rutin memberikan pendidikan agama, membentuk Qasemi menjadi anak yang religius dan patuh pada nilai-nilai Islam.
Para ulama menyebutkan sebenarnya ia berasal dari Mesir. Ayahnya datang dari Mesir bersama Ibrahim Pasha. Adapun Ibrahim Pasha, Ia adalah orang yang memimpin peperangan pertama melawan kerajaan Saudi yang kemudian Raja Abdullah meninggal di tangannya.
Sesampainya di Saudi, ayah Abdullah menikah dengan wanita lokal sehingga lahirlah Abdullah al-Qasimi dari pernikahan tersebut. Namun pernikahan keduanya tak berlangsung lama. Ayah Abdullah kemudian pindah ke Uni Emirat Arab, dan ibunya pun menikah dengan pria lain. Abdullah kecil hidup dalam pengasuhan paman-pamannya di tengah keluarga yang sederhana.
PERJALANANNYA DALAM MENUNTUT ILMU
Abdullah sering berpindah satu tempat ke tempat lain dari Uni Emirat Arab, Irak, India sebelum akhirnya tinggal dan menetap di Mesir, lantas masuk di Universitas Al-Azhar Pada tahun 1927, di usianya yang ke 20 tahun.
Tidak dipungkiri, Abdullah Al-Qasimi memang diberi kecerdasan yang mengagumkan.
Pada tahun 1930 seorang dosen senior yang bernama Syaikh Yusuf Ad-Dijwi pernah membuat satu artikel yang berjudul; “التوسل و جهلة الوهابية / hukum tawasul dan kebodohan kaum Wahabi “.
Tujuannya adalah menjatuhkan dakwahnya Syaikh Muhammad bin Abdulwahhab. Maka bangkitlah Abdullah Al-Qasimi membantah dan menulis satu buku yang berjudul;
البروق النجدية في اكتساح الظلمات الدجوية
“Halilintar dari Najd untuk Menyapu Kezhaliman Ad-Dijwi”. Abdullah Al-Qasimi pun langsung dikeluarkan dari universitas.
Sebagai informasi, Yusuf Ad-Dijwi ini adalah gurunya Hasan Al-Banna, pendiri organisasi Ikhwanul Muslimin.
Setelah itu Al-Qasimi banyak menulis kitab, di antaranya;
– ١ مشايخ الأزهر والزيادة في الدين
- “Guru-guru di Universitas Al-Azhar dan Berlebih-lebihannnya Mereka Dalam Agama”.
٢ – الثورة الوهابية
- “Revolusi Kaum Wahabi”, dalam kitab ini Al-Qasimi menjunjung tinggi dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
– ٣ الصراع بين الإسلام و الوثنيين
“Pertentangan Antara Islam dan Kaum Paganisme”.
Kitab ini adalah bantahan atas seorang Syiah yang bernama Muhsin Al-‘Amili yang mengajak untuk menyembah tempat-tempat suci. Kitab ini diterima secara luas bahkan mendapatkan pujian dari para ulama ahli sunnah wal jama’ah.
Salah satu guru Al-Qasimi mengatakan; “Dengan kitab ini Al-Qasimi membayar mahar surga”. Tahun 1944, Al-Qasimi meninggalkan Mesir pergi ke negeri Saudi Arabia dan disambut hangat oleh raja Abdul Aziz Alu Sa’ud rahimahullah.
SEBAB YANG MENJADIKANNYA SEORANG ATHEIS
Saat menempuh pendidikan di Al-Azhar, Qasemi mulai dikenal sebagai pemikir yang mengusung gagasan baru terkait cara berpikir masyarakat Arab. Dilansir dari Al Arabiya, ia kerap mendorong penggunaan rasionalitas untuk membebaskan dunia Arab dari pemikiran mitologis.
Selain itu, ia juga mendukung gerakan Salafi, yang berpegang teguh pada ajaran para pendahulu Islam (al-salaf al-salih) serta menolak praktik bidah. Hal tersebut membuatnya mendapat sorotan, hingga akhirnya pada tahun 1931, ia dikeluarkan dari Universitas Al Azhar. Setelah dikeluarkan dari universitas, pemikiran Qasemi mengalami perubahan drastis.
Ia yang sebelumnya religius dan menjadi pendukung gerakan Salafi perlahan mulai mempertanyakan doktrin agama. Puncaknya, ia secara terbuka menyatakan dirinya telah murtad atau keluar dari Islam dan menjadi seorang ateis.
Sikapnya ini mengejutkan banyak orang, terutama karena ia juga aktif menulis buku yang mengkritik agama. Salah satu karyanya yang paling kontroversial berjudul The Lie to See God Beautiful, di mana ia mempertanyakan keabsahan keyakinan yang dianut masyarakat selama ini.
AKHIR HIDUP
Akibat pemikirannya yang menentang agama, Qasemi menghadapi banyak penolakan dan kecaman. Buku-bukunya dilarang di berbagai negara Timur Tengah, dan banyak pihak menyerukan agar ia dihukum mati.
Bahkan, ia sempat dipenjara atas desakan pemerintah Yaman karena dianggap memiliki pengaruh besar terhadap para siswa Yaman di Kairo yang sering berinteraksi dengannya. Pemikirannya dinilai berbahaya dan bertentangan dengan ajaran Islam.
Pada tahun 1954, pemerintah Mesir mengusirnya melalui kebijakan persona non grata, karena mereka khawatir pemikirannya dapat mempengaruhi masyarakat luas. Setelah itu, ia beberapa kali menjadi target upaya pembunuhan, baik di Mesir maupun di tempat pengasingannya di Lebanon.
Pada akhirnya, perjalanan panjangnya berakhir pada 9 Januari 1996, ketika ia meninggal dunia akibat kanker. Ia kemudian dimakamkan bersama istrinya di Bab al-Wazir, Mesir.