Sejarah dan Perkembangan Islam di Timur Tengah

Berita Islam – Islam lahir di jazirah Arab pada abad ke-7 Masehi, tepatnya di kota Mekkah, melalui wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW. Sejak saat itu, Islam tidak hanya menjadi agama baru bagi masyarakat Arab, tetapi juga tumbuh sebagai kekuatan politik dan peradaban yang berpengaruh besar di kawasan Timur Tengah.

Awal Kemunculan dan Penyebaran Islam

Dakwah Islam dimulai secara terbuka di Mekkah dan menghadapi banyak tantangan, terutama dari kalangan elit Quraisy. Namun, setelah peristiwa hijrah ke Madinah pada tahun 622 M, posisi umat Islam semakin kuat. Nabi Muhammad membangun masyarakat berbasis nilai-nilai Islam yang inklusif dan berkeadilan.

Dari Madinah, Islam mulai menyebar ke berbagai wilayah melalui dakwah, perjanjian damai, dan peperangan yang strategis. Dalam waktu singkat, hampir seluruh jazirah Arab memeluk Islam. Setelah Nabi wafat, kepemimpinan dilanjutkan oleh para khalifah, yang memperluas wilayah Islam hingga mencakup berbagai bagian Timur Tengah.

Salat Dipengaruhi Ragam Tradisi Ibadah Timur Tengah

Pengaruh Yahudi terhadap salat

Hal yang paling mencolok dari salat adalah wudu dan sujud yang diyakini dipengaruhi tradisi Yahudi.Dalam aktivitas sembahyang, pemeluk agama Yahudi menyembah Tuhan di sinagog meniru kebiasaan yang berlaku di Bait Suci.

Umat Yahudi mencuci sebagian anggota tubuh mereka sebelum beribadah di Bait Suci. Hal ini pun berlaku ketika Bait Suci hancur, memaksa umat Yahudi beribadah di sinagog.

Ibadah Kekristenan

Ada banyak unsur Kekristenan Timur Tengah yang serupa dengan salat. Salah satu yang berpengaruh adalah ibadah pemeluk Kekristenan di Suriah-Palestina.

Masyarakat Kekristenan Suriah-Palestina percaya bahwa sembahyang merupakan “ekspresi dan kepercayaan kepada Tuhan untuk menghadapi cobaan yang tidak dapat ditanggung.” Hal ini selaras dengan konsep sembahyang umat Islam sebagai ketundukan kepada Tuhan.

“Namun, setidaknya ada satu perbedaan mencolok antara sembahyang monastik Kristen dan Muslim. Salat berorientasi pada sujud. Sembahyang monopisit dilakukan dalam posisil salib,”

Masyarakat Kekristenan di Suriah-Palestina memiliki kebiasaan memasang lukisan atau figur Yesus Kristus di timur bangunan. Mereka beribadah dan berdoa menghadap ke timur, sebagai karena diyakini di sanalah letak “tempat tinggal Yang Terberkati” dan akan kembali ke Bumi.

“Hal ini memengaruhi salat Muhammad, meski kemudian arahnya diubah ke Kakbah di Mekah. Hal yang penting di sini bukan hanya bahwa umat Kristen di Suriah menghadapi arah yang berbeda dari Yahudi dan kemudian Muslim, namun juga tujuannya berbeda,”

Lima kali sehari: ibadah Zoroaster

Ketika Nabi berdakwah, Kekaisaran Persia di bawah wangsa Sasaniyah menganut Zoroaster. Pengaruh agama ini sangat kuat, baik dari segi praktik maupun teologi keimanan. Ajaran Zoroaster mengharuskan pemeluk agamanya untuk berdoa lima kali sehari oleh kalangan awam. Sedangkan elite pendeta akan memiliki ragam runtutan ritual.

Ibadah ini pun memiliki ketentuan, mulai dari membersihkan diri dengan cuci muka, tangan, dan kaki, dilanjutkan dengan menghadap tempat berdoa, sampai mengucapkan doa-doa tertentu. Dalam kasus Zoroastrianisme yang mempengaruhi salat, kriterianya terpenuhi.

Pengaruh kebudayaan Arab dan lingkungan Nabi Muhammad

Sebelum Islam muncul, penduduk Arab di Makkah menyembah dewa-dewi seperti Uzza, Hubal, Latta, dan Manat. Periode ini disebut sebagai jahilyah. Masyarakat Arab pra-Islam juga sebenarnya menyembah Allah, sebutan Tuhan yang sama dengan muslim. Allah dianggap sebagai dewa tertinggi yang anak-anaknya adalah Latta, Manat, dan Uzza.

Untuk mengetahui kegiatan keagamaan, hanya ada sedikit catatan sejarah tentang masyarakat pra-Islam. Petunjuk lain berasal dari ragam grafiti pra-Islam di situs utara Hijaz. Grafiti ini ditinggalkan oleh kalangan Arab Baduy yang menyebutkan “tempat sujud” (masjid).

Akan tetapi, praktik ini berbeda penerapannya dalam agama Islam. Umat muslim akan sujud dengan menghadap kiblat, Kakbah di Makkah. Sementara masyarakat Arab pra-Islam tidak, karena meski Kakbah juga disucikan, tidak semua berhala dewa yang disembah ada di dalamnya.

Ada banyak yang mendorong kemunculan gerakan salat. Inspirasi mungkin memengaruhi sejarah salat sebagai pertalian antarperadaban yang terjadi di Arab semasa Nabi Muhammad. Ada banyak ritual yang telah tiada, namun bisa digali kembali sejarahnya berkat asal-usul salat.

Di satu sisi, inspirasi unsur gerakan, tata cara, dan cara pandang yang dipadukan ini membuat salat sebagai ritual sembahyang baru.

Perkembangan Islam di Era Modern

Abad ke-19 dan 20 ditandai oleh kolonialisme Eropa yang menguasai sebagian besar wilayah Timur Tengah. Kekuasaan Islam, khususnya Kekhalifahan Utsmaniyah, mulai melemah dan akhirnya runtuh pasca Perang Dunia I. Wilayah-wilayah Islam kemudian dibagi-bagi menjadi negara-negara modern.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan seperti konflik politik, sekularisasi, dan globalisasi, Islam tetap menjadi identitas utama masyarakat di kawasan tersebut. Gerakan pembaruan dan kebangkitan Islam juga muncul sebagai respons terhadap perubahan zaman.

Sejarah Islam di Timur Tengah adalah kisah panjang tentang dakwah, perjuangan, kejayaan, dan dinamika zaman. Islam telah membentuk jati diri kawasan ini secara mendalam, dari aspek keagamaan hingga budaya dan politik. Hingga kini, pengaruhnya tetap terasa kuat dalam kehidupan masyarakat Timur Tengah yang terus berkembang di tengah tantangan global modern.

Author: pangeranbertopeng