Berita Islam – Indonesia adalah negara yang memiliki populasi Muslim terbesar di seluruh dunia. Pada saat ini diperkirakan bahwa jumlah umat Muslim mencapai 207 juta orang, sebagian besar menganut Islam aliran Suni. Jumlah yang besar ini mengimplikasikan bahwa sekitar 13% dari umat Muslim di seluruh dunia tinggal di Indonesia dan juga mengimplikasikan bahwa mayoritas populasi penduduk di Indonesia memeluk agama Islam (hampir 90% dari populasi Indonesia).
Namun, kendati mayoritas penduduk beragama Islam, Indonesia bukanlah negara Islam yang berdasarkan pada hukum-hukum Islam. Justru, Indonesia adalah sebuah negara sekuler demokratik tetapi dengan pengaruh Islam yang kuat. Sejak awal berdirinya negara ini, sudah ada banyak perdebatan politik mengenai dasar ideologi negara Indonesia.
Artikel ini membahas perjalanan sejarah, tokoh, organisasi, serta pengaruh pemikiran Islam abad ke-20 secara padat dan terstruktur.
Latar Belakang Sejarah Islam Abad ke-20 di Nusantara
Perjalanan Islam di Nusantara pada abad ke-20 tidak terlepas dari kondisi sosial dan politik yang berkembang saat itu. Masa ini menjadi titik penting karena masyarakat menghadapi perubahan besar akibat kolonialisme dan interaksi global. Menurut Deliar Noer dalam buku Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900–1942 (LP3ES:1973), kolonialisme menciptakan struktur sosial baru yang memarginalkan umat Islam, sehingga butuh respons organisasi yang lebih modern dan teratur. Hal itu juga akhirnya mendorong lahirnya reaksi intelektual serta gerakan pembaharuan di kalangan umat Islam.
Deliar Noer juga menjelaskan ketika menjelang abad ke-20, masyarakat Nusantara berada dalam tekanan kolonial yang kuat. Struktur sosial mulai berubah, terutama di kota-kota besar yang menjadi pusat pendidikan dan perdagangan. Situasi ini membuat umat Islam mulai mencari jalan keluar melalui pendidikan dan penguatan komunitas.
Waktu itu cengkraman kolonialisme membawa tantangan besar bagi umat Islam. Selain membatasi kegiatan keagamaan, pemerintah kolonial juga menerapkan kebijakan yang memicu lahirnya gerakan perlawanan dan pembaruan. Sehingga banyak tokoh Islam menyadari perlunya pembaruan pemikiran untuk menghadapi arus modernisasi dan dominasi kolonialisme Belanda pada saat itu.
Islam Radikal di Indonesia
Sejak tahun 1990-an, pengaruh Islam semakin tampak jelas di jalan-jalan di Indonesia dan mulai memainkan peran yang lebih penting dalam kehidupan sehari-hari umat Muslim. Contohnya, jumlah wanita Indonesia yang menggunakan jilbab atau kerudung telah meningkat secara signifikan, dan beribadah di mesjid semakin menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Namun, penting untuk memahami bahwa perkembangan Islamisasi ini samasekali tidaklah sama dengan radikalisme (atau Islamisme). Sebagian besar umat Muslim di Indonesia memiliki toleransi tinggi pada agama-agama lain beserta aliran-aliran lain di dalam Islam. Hanya sekelompok kecil masyarakat di Indonesia yang setuju dan/atau berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas radikal. Apalagi, hanya sekelompok sangat kecil yang terlibat – atau setuju dengan – aksi teror (meskipun ada kekhawatiran bahwa kelompok ini sedang tumbuh belakangan ini).
Meskipun radikalisme Islam di Indonesia mendapatkan lebih banyak sorotan di media sejak penyerangan 11 September 2001 di New York (terutama setelah beberapa pemboman di Bali dan Jakarta pada tahun 2000an), ini bukanlah fenomena baru di Indonesia. Insiden-insiden yang melibatkan radikalisme Islam telah terjadi jauh sebelumnya, seperti pemberontakan-pemberontakan Darul Islam pada tahun 1950an, pemberontakan-pemberontakan daerah pada akhir 1950an, pembantaian komunis pada tahun 1965-1966, pembajakan pesawat pada tahun 1981, berbagai serangan pada gereja Kristen dan monumen Buddha, dan serangan-serangan pada tempat-tempat yang dianggap haram (rumah bordil, bar, dan tempat perjudian) pada beberapa dekade terakhir.
Tokoh-Tokoh Pembaharu Islam di Abad ke-20
Tokoh-tokoh pembaharu Islam abad ke-20 berperan besar dalam membentuk arah baru pemikiran dan gerakan sosial. Mereka tampil sebagai penggerak perubahan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, maupun keagamaan. Masih dalam buku yang sama, Deliar Noer mengungkapkan bahwa tokoh seperti KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari sangat menentukan arah pembaruan Islam di Nusantara pada waktu itu.
Sementara tokoh lainnya yaitu KH Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai wadah bagi ulama pesantren dan masyarakat tradisional. Menjadikan desa dan kampung menjadi basis utamanya. NU menekankan pentingnya menjaga tradisi keagamaan, namun tetap terbuka pada perubahan yang positif. Dalam hal ini KH Hasyim Asy’ari memiliki peran penting untuk menjaga identitas keislaman yang sudah diwariskan para penyebar Islam awal di Nusantara.
Kesimpulan dan Relevansi Pemikiran Islam Abad ke-20 Saat Ini
Perkembangan Islam abad ke-20 di Nusantara telah membentuk fondasi penting bagi kehidupan beragama dan sosial masyarakat Indonesia saat ini. Gerakan pembaruan, tokoh-tokoh visioner, dan organisasi modern menciptakan perubahan yang berkelanjutan. Relevansi pemikiran Islam abad ke-20 masih terasa hingga kini, terutama dalam membangun masyarakat yang inklusif dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tantangan ke depan adalah menjaga semangat pembaruan tanpa melupakan akar tradisi dan identitas lokal yang sudah mengakar kuat.