Tahlilan : Tradisi Islam Mendoakan Orang yang Telah Meninggal

Berita Islam – Salah satu tradisi umat Islam di Indonesia saat wafatnya orang terdekat adalah tahlilan. Apa itu tahlilan? Simak dalil hingga bacaan tahlil selengkapnya di bawah ini.

Tahlilan adalah tradisi Islam yang dilakukan untuk mengenang dan mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Tradisi tahlilan biasanya dilakukan pada malam pertama setelah seseorang meninggal dunia dan pada malam-malam tertentu setelah itu, seperti pada hari ke-7, hari ke-40, hari ke-100, dan hari ke-1000 setelah kematian. Biasa disebut dengan istilah mitung ndino, matangpuluh, nyatus, dan nyewu.

Dalil Tahlilan

Salah satu zikir yang dapat dibacakan saat tahlilan telah tertuang dalam sebuah hadis. Berikut hadis yang menjelaskan mengenai tahlil.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ “. قِيلَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا ؟ قَالَ : ” أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ : لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya: Dari Abi Hurairah RA, ia berkata Rasulullah SAW bersabda: Perbaruilah iman kalian. Para sahabat bertanya, “Bagaimana kami memperbarui iman kami ya Rasulullah?” Beliau Menjawab: “Perbanyaklah mengucapkan La Illaaha Illahllah”.

Bacaan Kalimat Tahlil

Susunan bacaan tahlil didasarkan pada dalil dan ijtihad ulama sehingga dapat dipastikan tahlil bukan suatu perbuatan bidah. Zikir yang dapat dibacakan telah diriwayatkan oleh Imam Ar-Rahmi yang berbunyi:

ﻗﺎﻝ اﻟﺮﻫﻮﻧﻲ ﻭاﻟﺘﻬﻠﻴﻞ اﻟﺬﻱ ﻗﺎﻝ ﻓﻴﻪ اﻟﻘﺮاﻓﻲ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻫﻮ ﻓﺪﻳﺔ ﻻ ﺇﻟﻪ ﺇﻻ اﻟﻠﻪ ﺳﺒﻌﻴﻦ ﺃﻟﻒ ﻣﺮﺓ ﺣﺴﺒﻤﺎ ﺫﻛﺮﻩ اﻟﺴﻨﻮﺳﻲ ﻭﻏﻴﺮﻩ ﻫﺬا اﻟﺬﻱ ﻓﻬﻤﻪ ﻣﻨﻪ اﻷﺋﻤﺔ

Artinya: Imam Ar-Rahmi berkata: “Tahlil yang dikatakan oleh al-Qarafi yang dianjurkan untuk diamalkan adalah doa fidyah La ilaha illallah sebanyak 70.000 kali, sesuai yang disebutkan as-Sanusi dan lainnya. Inilah yang dipahami oleh para Imam”.

Bacaan Tahlil

لا إله إلا الله

Latin: Lā ilāha illa l-Lāh.

Artinya: Tiada Tuhan selain Allah SWT.

Saat tahlilan masyarakat seringkali melakukan sebuah tradisi membagikan berkat (nasi kotak) dan mengirimkan doa pada mayat. Hal ini biasa dilakukan ketika memasuki tahlilan hari ke-7 dan ke-40 setelah pemakaman mayat.

  • Pada malam pertama, tahlilan biasanya dihadiri oleh keluarga dan tetangga yang berkumpul di rumah almarhum. Selama acara tahlilan, biasanya dibacakan doa-doa dan ayat-ayat Al-Quran untuk memohon ampun dan rahmat Allah SWT. Selain itu, tahlilan juga sering diisi dengan pembacaan sholawat dan dzikir untuk menguatkan iman dan mendekatkan diri pada Allah.
  • Pada hari ke-7 setelah kematian, tahlilan biasanya dilakukan kembali dengan tujuan untuk memberikan penghormatan terakhir dan memperkuat iman keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, tahlilan hari ke-7 juga dianggap sebagai hari yang penting dalam mempersiapkan almarhum untuk menghadap kepada Allah SWT.
  • Pada hari ke-40 setelah kematian, tahlilan biasanya dilakukan lagi untuk menandai berakhirnya masa berkabung yang dianggap sebagai waktu yang paling berat bagi keluarga yang ditinggalkan.
  • Pada hari ke-100 setelah kematian, tahlilan kembali dilakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir dan untuk mengenang almarhum. Pada hari ini, keluarga biasanya mengumpulkan orang-orang yang terkait dengan almarhum untuk melakukan tahlilan bersama-sama.
  • Sedangkan pada hari ke-1000 setelah kematian, tahlilan biasanya dilakukan oleh keturunan atau keluarga terdekat yang masih hidup sebagai bentuk penghormatan dan pengenangan terhadap almarhum.
  • Di antara nyatus dan nyewu biasanya juga dilakukan tahlilan mendhak pisan dan mendhak pindho yakni peringatan setahun kematian dan dua tahun kematian.

Author: pangeranbertopeng