Berita Islam – Bulan Syaban adalah bulan kedelapan setelah Rajab di kalender Hijriah. Arti dari bulan Syaban sendiri adalah kelompok ataupun golongan. Sebelum memasuki bulan suci Ramadhan, kita terlebih dahulu melewati bulan Syaban.
Untuk tahun 2022, bulan Syaban sendiri dimulai sejak malam selepas maghrib di tanggal 4 Maret 2022. Bulan Syaban memiliki julukan yakni al-Qasir yang berarti singkat/pendek, hal ini disebabkan karena saat bulan Syaban umat muslim menanti-nantikan bulan suci Ramadhan yang akan datang setelah bulan Syaban.
Bulan syaban menurut Islam adalah salah satu periode bulan yang termasuk mulia. Hal ini disebabkan karena amalan baik yang dilakukan saat bulan Syaban disebutkan dalam beberapa hadits. Keutamaan dari bulan Syaban yang paling terkenal adalah amal perbuatan manusia yang sudah dicatat oleh malaikat akan diberikan kepada Allah SWT. Berikut ini merupakan 5 keutamaan dari bulan Syaban, yakni :
1. Amalan Tahunan Dilaporkan ke Allah SWT
Pada periode bulan Syaban, malaikat akan melaporkan amalan tahunan perbuatan baik manusia kepada Allah SWT. Sedangkan untuk amalan harian dilaporkan malaikat kepada Allah SWT pada setiap bada shubuh dan ashar, dan amalan mingguan dilaporkan pada setiap hari Senin. Berikut ini merupakan hadist yang membicarakan keutamaan bulan Syaban, yang berisi:
أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau berpuasa dalam satu bulan sebagaimana engkau berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya; -ia bulan yang berada- di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang disana berisikan berbagai amal, perbuatan diangkat kepada Rabb semesta alam, aku senang amalku diangkat ketika aku sedang berpuasa.” (Nasai 2317). Secara nilai hadits di atas adalah sahih.
2. Rasulullah SAW Hampir Puasa Penuh di Bulan Syaban
Bulan Syaban termasuk periode bulan yang mulia karena pada bulan ini umat muslim bisa melakukan amalan puasa sunah. Rasulullah SAW sendiri diketahui memperbanyak puasa sunah di bulan Syaban hampir sebulan lamanya. Oleh sebab itu, sampai saat ini banyak umat muslim yang mengikuti Rasulullah SAW untuk melaksanakan puasa di bulan Syaban.
عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ: وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ
Dari Aisyah ra berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)
3. Umat muslim dianjurkan untuk berpuasa dan shalat pada bulan Syaban
Sebagaimana Rasulullah SAW yang berpuasa hampir sebulan penuh pada bulan Syaban, umat muslim pun saat ini dianjurkan untuk berpuasa dan shalat pada bulan Syaban. Tetapi anjuran ini bersifat dhaif, yang artinya diperbolehkan untuk dilakukan namun amalam baik ini tidak boleh dikhususkan karena hukumnya tidak wajib.
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ
Dari Ali bin Abu Thalib, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. (HR. Ibnu Majah (1378).
Selain itu, sebagai muslimah ada kalanya saat bulan Ramadhan kita tidak bisa berpuasa sebulan penuh karena datang bulan/haid. Oleh sebab itu, pada zaman dahulu Siti Aisyah banyak mengqodho puasa Ramadhan yang sebelumnya ia lewatkan, dan melakukannya pada saat bulan Syaban.
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَقُولُ كَانَ يَكُونُ عَلَيَّ الصَّوْمُ مِنْ رَمَضَانَ فَمَا أَسْتَطِيعُ أَنْ أَقْضِيَ إِلَّا فِي شَعْبَانَ قَالَ يَحْيَى الشُّغْلُ مِنْ النَّبِيِّ أَوْ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] telah menceritakan kepada kami [Zuhair] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Abu Salamah] berkata; Aku mendengar [‘Aisyah radliallahu ‘anha] berkata: “Aku berhutang puasa Ramadhan dan aku tidak bisa mengqadha’nya kecuali pada bulan Sya’ban“. Yahya berkata: “Karena dia sibuk karena atau bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. (Bukhari 1814)
Diriwayatkan juga Muslim 1933, Abu Dawud 2047, Tirmidzi 714, Nasai 2280, Ibnu Majah 1659, Malik 600, Ahmad 23781, Ahmad 23850 dan Ahmad 24289.