Berita Islam – Gedung putih pada Senin (14/1) membela Presiden Trump yang me-retweet sesuatu yang berbau anti Islam. Tweet tersebut menunjukkan gambar dua pemimpin Demokrat yang diedit ke pakaian Muslim dengan latar belakang bendera Iran. Ini telah memicu tuduhan Islamophobia terhadap Trump.
Pada hari Senin pagi, me-retweet gambar dari pengguna Twitter @D0wn_Under. Berikut merupakan gambarnya.

Caption tweet tersebut bertuliskan, “Demokrat yang korup mencoba yang terbaik untuk menyelamatkan Ayatollah.”
Sekretaris pers Washington Stephanie Grisham bertanya mengapa Trump akan meluangkan waktu untuk me-retweet sebuah gambar. Ia mengatakan Presiden melakukan itu untuk menuduh Demokrat berpihak pada teroris.
Menurutnya, Presiden Trump berpikir bahwa Demokrat memihak negara-negara tersebut karena kebencian yang Demokrat rasakan terhadap Trump.
Aktivis dan mantan pejabat pemerintah di Twitter mengutuk tweet tersebut sebagai pernyataan anti-Muslim.
“Presiden AS terlibat dalam pidato kebencian terhadap seluruh agama,” tweet Dana Shell Smith, mantan duta besar Qatar selama pemerintahan Obama.
Jasmine El-Gamal, mantan pejabat pemerintahan Obama yang lain, menyebut tweet itu sangat menyakiti Muslim di Amerika Serikat.
“Gambaran itu menyoroti kebenaran yang sangat meresahkan. Yaitu, bahwa Presiden berpikir bahwa cara terbaik untuk menghina seseorang adalah dengan melukis mereka sebagai Muslim atau bersimpati pada negara Muslim,” tweetnya.
Dewan Hubungan Amerika-Islam mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa tweet tersebut sangat kekanak-kanakan, tidak bermartabat, dan sangat menyinggung banyak pihak.
Sleeping Giants, sebuah organisasi aktivis liberal, meminta di Twitter untuk menghapus tweet tersebut karena melanggar kebijakan perilaku platform tersebut.
Baca Juga: Panduan Belajar Islam Bagi Pemula
Tweet itu muncul ketika ketegangan terus meningkat di Capitol Hill mengenai keputusan pemerintahan Trump untuk menargetkan dan membunuh Jenderal Iran Qassem Soleimani.
Pekan lalu, Presiden mengklaim Jenderal tersebut berencana untuk menyerang 4 kedutaan besar AS. Namun, anggota parlemen mengatakan pengarahan yang mereka terima mengenai masalah tersebut tidak termasuk ancaman seperti itu.
Menteri Pertahanan Mark Esper mengatakan bahwa ia tidak melihat intelijen yang menunjukkan 4 kedutaan akan menjadi sasaran. Namun, ia juga menambahkan bahwa informasi itu mungkin saja benar.
Demokrat sudah mengambil sikap kritis terhadap rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian Jenderal Soleimani. Mereka mengkhawatirkan kekuatan perang antar Presidensial dan ketidakstabilan di wilayah tersebut. Namun, anggota parlemen dalam partai tidak memuji atau pun berduka atas kematian Soleimani seperti yang diklaim Trump ataupun Gedung Putih.