Hidayah : Pengertian, Tingkatan dan Jenisnya

Berita Islam – Seorang muslim yang sedang terkena musibah atau jauh dari jalan Allah SWT sering kali didoakan agar segera mendapat hidayah. Oleh karena itu, kata hidayah tidak asing di telinga umat muslim.

Hidayah adalah hak prerogatif Allah SWT, manusia bisa berusaha untuk memperolehnya. Hidayah merupakan bukti kekuasaan Allah SWT terhadap hambanya.

Agar lebih memahami lagi mengenai hidayah, simak artikel dibawah ini hingga selesai. Karena akan dijelaskan tentang pengertian, tingkatan dan macam-macamnya.

Pengertian Hidayah

Kata hidayah merujuk pada istilah yang berasal dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an dan telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Akar katanya adalah hadaa, yahdi, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan.

Khusus yang terakhir, kata hidaayatan kalau wakaf (berhenti) dibaca hidayah, sebagaimana yang diucapkan dalam bahasa Indonesia. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) istilah hidayah memiliki arti petunjuk atau bimbingan dari Allah SWT.

Menukil buku Cara Memperoleh Hidayah Allah Kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, hidayah secara bahasa berarti petunjuk, lawan katanya adalah dhalalah yang berarti kesesatan. Adapun secara istilah, hidayah adalah penjelasan dan petunjuk jalan yang menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah.

Menurut Ibnu Qayyim dalam Tafsir al-Qayyim, hidayah adalah penerangan atau petunjuk jalan. Ketika kita berhasil mendapat penerangan, petunjuk, maka berikutnya adalah hidayah taufiq.

Tingkatan Hidayah

Hidayah memiliki beberapa tingkatan yang berbeda. Berikut adalah 10 tingkatan hidayah menurut Ibnu Qayyim.

  1. Hidayah melalui wahyu langsung dari Allah SWT kepada individu dalam dialog, seperti yang diberikan kepada Nabi Musa AS dan Nabi Muhammad SAW selama peristiwa Isra Miraj.
  2. Hidayah melalui wahyu yang Allah SWT tanamkan ke dalam hati seorang nabi, memberinya pengetahuan yang sebelumnya tidak dimilikinya.
  3. Hidayah melalui wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril sebagai perantara, di mana Jibril menyamar sebagai manusia.
  4. Hidayah berbentuk tahdis, di mana pengetahuan tiba-tiba diberikan oleh Allah ke hati individu saleh, memungkinkannya mengetahui hal yang sebelumnya tidak diketahui.
  5. Hidayah dalam bentuk ilham, di mana seseorang secara tiba-tiba memahami suatu masalah tanpa pelajaran sebelumnya.
  6. Hidayah dalam bentuk penjelasan umum, yang diberikan Allah kepada sekelompok orang untuk membedakan antara yang benar dan yang salah.
  7. Hidayah dalam bentuk penjelasan khusus, yang diberikan Allah kepada individu tertentu, mengokohkan iman dan ketakwaannya serta menjauhkannya dari kesesatan.
  8. Hidayah melalui isma’ (pendengaran), di mana pengetahuan diperdengarkan Allah kepada individu, memperkuat iman dan semangat berbuat baik. Isma’ berbeda dari ilham dan merupakan pengalaman lebih khusus.
  9. Hidayah dalam bentuk ilham, di mana pengetahuan diberikan secara spontan Allah kepada individu beriman, memungkinkannya mengetahui hal yang belum diketahuinya.
  10. Hidayah melalui mimpi yang benar, seperti yang dialami Nabi Ibrahim AS ketika Allah memerintahkan untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail AS.

Macam-Macam Hidayah

Seorang pakar tafsir dari Mesir, Syaikh Ahmad Mustafa al-Maraghi membagi hidayah menjadi lima macam. Berikut ini penjelasannya:

1. Hidayah al-Ilhami (Instink, Naluri)

Hidayah ini tidak hanya diberikan kepada manusia saja, melainkan juga kepada hewan sekalipun. Karena Hidayah al-Ilhami adalah denyut hati (gerak hati, inpuls) yang ada pada setiap makhluk hidup.

Jenis hidayah ini merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu yang tidak didasarkan pada suatu pemikiran, melainkan hanya berupa dorongan insting hewan. Hidayah ini diberikan Allah kepada manusia sejak bayi.

2. Hidayah al-Hawasi

Hidayah al-Hawasi dapat dikatakan juga denga hidayah panca indera, yaitu salah satu bagian-bagian tubuh yang peka terhadap rangsangan dari luar, seperti rangsangan cahaya, rangsangan bunyi dan lain-lain. Panca indera yang dimaksud mencakup mata, telinga, hidung, indera perasa, dan indera peraba.

3. Hidayah al-Aqli

Hidayah akal ini diberikan untuk meluruskan kekeliruan-kekeliruan panca indera, sebab kadangkala tangkapan indera kurang akurat, mungkin karena mengalami gangguan atau cacat. Mungkin juga karena kemampuan indera yang terbatas, tidak mampu menyimpulkan, mengakomodasi dan menyalurkan sesuai kebutuhan tubuh.

Akal merupakan perangkat lunak manusia sebagai pengakomodir segala hal yang dihimpun oleh panca indera. Peran akal melebihi peran panca indera, karenanya akal menempati posisi penting bagi segala aktivitas manusia.

4. Hidayah al-Adyani

Hidayah al-Adyani bisa dikatakan juga hidayah agama. Petunjuk agama juga berperan dalam kehidupan manusia, karena akal semata belum bisa sampai kepada kebenaran yang hakiki. Dengan agama, Allah telah menunjukkan kebenaran berupa wahyu Ilahi yang mampu menunjukkan jalan lurus dan mengajari manusia segala sesuatu yang belum bisa dijelaskan oleh akal atau nalurinya.

5. Hidayah Taufiq

Agama bukanlah hidayah terakhir, masih ada hidayah yang jauh lebih penting yakni hidayah taufiq. Hidayah taufiq ini semata-mata hanya berada di tangan Allah, tidak ada satu orangpun termasuk Rasul yang bisa memberikan hidayah ini.

Tidak banyak orang yang memperoleh hidayah taufiq ini, tetapi Allah berjanji kepada manusia. Dia akan memberikan kepada manusia yang bersungguh-sungguh berusaha menjalankan syariat-Nya.

Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al-Ankabut ayat 69 yang berbunyi:

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْن

Artinya: Orang-orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.

Author: pangeranbertopeng